Momen Gibran Rakabuming Minta Petani dan Nelayan Sampaikan Keluhan, Ini Faktanya
- Wapres Gibran Rakabuming Raka berkunjung ke Lampung Timur dan Gorontalo pada Mei-Juni 2026, termasuk menghadiri PENAS XVII, sembari menyerap keluhan petani dan nelayan secara langsung.
- Keluhan yang muncul meliputi kuota solar bersubsidi, irigasi rusak di Aceh Barat dan Simalungun, kerusakan lahan akibat tambang di Morowali, hingga harga gabah dari Bulog yang dinilai belum sesuai harga pasar.
- Pemerintah merespons dengan memangkas 145 regulasi distribusi pupuk, mempercepat pembangunan SPBUN, dan mendorong pengadaan Rice Milling Unit (RMU) serta mesin pengering di berbagai sentra produksi.
- PP Nomor 47 Tahun 2024 tentang penghapusan piutang macet menjadi instrumen pendukung agar petani dan nelayan bebas dari jerat utang lama di bank Himbara.
- Stok pangan nasional tercatat 5,2 juta ton pada periode 2025-2026, capaian tertinggi dalam sejarah yang menempatkan Indonesia di posisi kedua dunia dalam peningkatan produksi pangan setelah Brasil.
Apa Latar Belakang
Wapres Gibran Minta Petani dan Nelayan Sampaikan Keluhan?
Wapres Gibran Rakabuming Raka
menggelar kunjungan kerja ke sejumlah wilayah pada Mei hingga Juni 2026 untuk
menyerap aspirasi petani dan nelayan secara langsung.
Rangkaian kunjungan kerja ini
menyasar wilayah seperti Lampung Timur dan Gorontalo, termasuk momen kehadiran
dalam ajang Pekan Nasional (PENAS) XVII. Di tengah ketegangan geopolitik global
yang memicu perang dagang dan fluktuasi tarif, stabilitas pangan domestik
dipandang pemerintah sebagai pilar keamanan nasional, bukan sekadar isu ekonomi
semata.
Wapres menegaskan pendekatan
gotong royong sebagai jembatan antara kebijakan makro pemerintah pusat dan
kebutuhan teknis di lapangan.
Petani dan nelayan diposisikan
sebagai garda terdepan kemandirian bangsa, sehingga keluhan mereka diharapkan
menjadi temuan strategis untuk mengidentifikasi hambatan yang menghambat
produktivitas nasional.
Mengapa Pendekatan
Gotong Royong Dinilai Penting dalam Dialog Ini?
Pendekatan gotong royong
digunakan Wapres Gibran sebagai jembatan antara kebijakan pemerintah pusat dan
kebutuhan teknis di tingkat petani dan nelayan.
Konsep ini menempatkan dialog
langsung sebagai instrumen utama, bukan sekadar formalitas seremonial.
Pemerintah pusat dipandang tidak akan mencapai sasaran program swasembada
pangan tanpa sinkronisasi dengan realitas teknis yang dihadapi petani dan
nelayan setiap hari di lapangan.
Dengan meruntuhkan sekat
birokrasi antara pengambil kebijakan dan pelaksana di lapangan, keluhan yang
sebelumnya dianggap persoalan rutin dapat diangkat menjadi temuan strategis.
Pendekatan semacam ini juga membuka ruang bagi kementerian teknis untuk
merespons lebih cepat dibanding mekanisme pelaporan berjenjang yang
konvensional.
Di Mana Saja
Wapres Gibran Bertemu Petani dan Nelayan?
Dialog dengan petani dan nelayan
berlangsung di berbagai wilayah, antara lain Lampung Timur, Gorontalo, Aceh
Barat, Simalungun, Morowali, Seruyan, Bantaeng, Sorong, dan Soppeng.
Wilayah pesisir seperti Leato
Selatan di Gorontalo, Bombana, dan Lampung Selatan menjadi lokasi utama
penyerapan keluhan nelayan terkait bahan bakar. Sementara itu, isu pertanian
banyak muncul dari Aceh Barat, Simalungun, Morowali dan Morowali Utara,
Seruyan, Bantaeng, Sorong, Halmahera Utara, Soppeng, dan Papua.
Penyebaran lokasi yang luas ini
menunjukkan bahwa kendala petani dan nelayan bersifat lintas wilayah, mulai
dari Sumatera hingga Papua, sehingga memerlukan penanganan yang terkoordinasi
antar kementerian dan pemerintah daerah.
Keberagaman karakteristik
wilayah, mulai dari kawasan pesisir penghasil ikan hingga sentra produksi padi
di pedalaman, membuat jenis keluhan yang muncul juga bervariasi. Hal ini
menegaskan bahwa kebijakan satu ukuran untuk semua daerah dinilai kurang
efektif, sehingga pendekatan penyelesaian masalah perlu disesuaikan dengan
konteks masing-masing wilayah.
Apa Saja Keluhan
Utama yang Disampaikan Petani dan Nelayan?
Empat kategori keluhan utama
meliputi krisis bahan bakar nelayan, kerusakan irigasi, minimnya sarana
pascapanen, dan ketidakpastian hak atas tanah.
Nelayan di sejumlah wilayah
pesisir mengeluhkan kuota solar bersubsidi yang terbatas serta SPBUN yang belum
terealisasi, sehingga mereka harus membeli bahan bakar dengan harga di atas
harga resmi di depot kecil.
Di sisi pertanian, irigasi yang
jebol di Aceh Barat menyebabkan gagal tanam pada lahan seluas 2.000 hektare,
sementara di Simalungun kewenangan irigasi yang berada di bawah PUPR Provinsi
memperlambat proses perbaikan.
![]() |
| Momen Pertemuan Gibran |
Secara umum, keluhan-keluhan
tersebut dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori besar, yakni kendala
energi dan bahan bakar bagi nelayan, kerusakan infrastruktur dan lingkungan
bagi petani, minimnya sarana pascapanen dan inovasi teknologi, serta
ketidakpastian landasan yuridis dan tata kelola lahan. Pengelompokan ini
membantu pemerintah menentukan kementerian mana yang paling relevan untuk
menindaklanjuti setiap jenis keluhan.
Selain itu, aktivitas
pertambangan di Morowali dan Morowali Utara, yang melibatkan entitas seperti PT
Alaska dan PT Dua Permata, dilaporkan merusak ekosistem sawah dan tambak di
sekitarnya.
Petani di sentra produksi
seperti Aceh Barat, Seruyan, dan Bantaeng juga masih kekurangan Rice Milling
Unit (RMU) dan mesin pengering, sementara harga beli gabah dari Bulog sebesar
Rp6.500 per kilogram dinilai tertinggal dari harga pasar yang berkisar Rp7.000
hingga Rp8.000 per kilogram pada 2026. Rincian lengkap daftar keluhan petani dan nelayan ke Wapres Gibran dibahas lebih lanjut secara
terpisah.
Bagaimana Respons
dan Direktif Pemerintah Atas Keluhan Tersebut?
Wapres Gibran memberi direktif
kepada Kementerian Pertanian, KKP, Kemenhub, dan Kemenko Pangan untuk
menindaklanjuti keluhan sebelum kunjungan Presiden Prabowo dilakukan.
Direktif tersebut
menitikberatkan pada efisiensi birokrasi dan keberpihakan pada pelaku usaha
kecil. Salah satu langkah konkret adalah pemangkasan 145 regulasi distribusi
pupuk yang sebelumnya dinilai menghambat input produksi sampai ke tangan petani
secara tepat waktu.
Selain pemangkasan regulasi,
Wapres Gibran juga menekankan agar seluruh kementerian terkait menyelesaikan
tindak lanjut sebelum kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto dilakukan,
sehingga setiap solusi yang dijalankan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh
petani dan nelayan di lapangan.
Pemerintah juga mendorong
revitalisasi dan pembangunan tujuh pabrik pupuk baru oleh Kemenperin bersama
BUMN Pupuk Indonesia, mempercepat pembangunan SPBUN melalui koordinasi KKP, BPH
Migas, dan Kemenhub, serta mengadakan RMU dan mesin pengering secara masif
melalui Kementan dan Bulog.
Perbaikan jaringan irigasi
tersier turut menjadi prioritas Kementerian PUPR bersama pemerintah daerah.
Rangkaian solusi pemerintah atas keluhan petani dan nelayan ini diuraikan lebih detail
pada artikel terkait.
Apa Itu PP Nomor
47 Tahun 2024 dan Mengapa Penting bagi Petani-Nelayan?
PP Nomor 47 Tahun 2024 mengatur
penghapusan piutang macet hingga Rp300 juta untuk perorangan dan Rp500 juta
untuk badan usaha di bank Himbara.
Kebijakan pemutihan utang ini
menjadi instrumen pendukung agar petani dan nelayan dapat fokus berproduksi
tanpa terbebani kegagalan finansial di masa lalu. Skema ini menyasar pelaku
UMKM di sektor pertanian dan perikanan yang piutangnya telah dikategorikan
macet di bank-bank Himbara.
Kebijakan ini berlaku khusus
untuk debitur di bank-bank Himbara, yakni kelompok bank milik negara yang
selama ini menjadi salah satu sumber pembiayaan utama bagi pelaku usaha kecil
di sektor pertanian dan perikanan. Dengan demikian, dampaknya diharapkan dapat
dirasakan secara luas oleh petani dan nelayan di berbagai daerah yang
sebelumnya kesulitan mengakses pembiayaan formal.
Setidaknya tiga tujuan strategis
melekat pada kebijakan ini: memulihkan catatan kredit di SLIK OJK agar petani
dapat kembali mengakses pembiayaan formal, mencegah petani dan nelayan terjebak
pinjaman online atau rentenir, serta mendorong regenerasi petani muda dengan
menghilangkan stigma utang turun-temurun pada profesi ini.
Bagaimana Capaian
Ketahanan Pangan Indonesia Setelah Dialog Ini?
Stok pangan nasional mencapai
5,2 juta ton pada periode 2025-2026, capaian tertinggi dalam sejarah ketahanan
pangan Indonesia.
Angka ini menempatkan Indonesia
sebagai negara dengan peningkatan produksi pangan tertinggi kedua di dunia
setelah Brasil pada periode 2025-2026, menurut catatan kebijakan ketahanan
pangan nasional. Capaian tersebut disebut sebagai buah dari kerja kolektif
pemerintah, petani, dan nelayan, serta hasil penyederhanaan birokrasi yang
mulai dirasakan manfaatnya di lapangan.
Salah satu inovasi yang turut
didorong adalah replikasi varietas Padi Trisakti yang diklaim dapat dipanen
dalam waktu 75 hari atau empat kali dalam setahun, sebagai jawaban atas anomali
produktivitas di sejumlah daerah agraris.
Pemerintah menegaskan bahwa
pencapaian ini tidak lepas dari peran aktif petani dan nelayan sebagai produsen
pangan utama, sehingga keluhan yang mereka sampaikan tidak dipandang sebagai
beban, melainkan sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat capaian yang sudah
diraih.
Pendekatan berbasis dialog
semacam ini diharapkan terus berlanjut pada kunjungan kerja berikutnya,
sehingga setiap perkembangan di lapangan dapat terpantau secara berkelanjutan
dan konsisten, bukan hanya menjadi momentum sesaat yang berhenti setelah
pemberitaan mereda.
Apa yang Perlu
Dilakukan Selanjutnya Agar Keluhan Tidak Berulang?
Keberlanjutan capaian ketahanan
pangan bergantung pada kecepatan eksekusi kementerian terkait dalam
menindaklanjuti keluhan petani dan nelayan di lapangan.
Kepastian pasokan solar bagi
nelayan, perbaikan irigasi yang jebol, dan perlindungan lahan pertanian dari
ekspansi tambang menjadi syarat mutlak agar kesejahteraan petani dan nelayan
tidak hanya berhenti pada angka statistik. Pemerintah pusat dan daerah perlu
memastikan koordinasi lintas kementerian berjalan konsisten, terutama untuk
isu-isu yang melibatkan kewenangan provinsi seperti perbaikan irigasi di
Simalungun.
Selain itu, transparansi dalam
memantau realisasi setiap direktif perlu dijaga agar masyarakat dapat menilai
sejauh mana komitmen pemerintah benar-benar terlaksana, bukan hanya berhenti
sebagai pernyataan di atas kertas.
Selain mengandalkan kebijakan
pemerintah, petani juga didorong memperluas akses pasar secara mandiri,
misalnya lewat cara petani jual produk pertanian di marketplace, sebagai langkah diversifikasi
pendapatan di tengah proses perbaikan infrastruktur yang masih berjalan.
Kesimpulan
- Momen Wapres Gibran meminta petani dan nelayan menyampaikan keluhan terjadi dalam kunjungan kerja Mei-Juni 2026 ke Lampung Timur dan Gorontalo.
- Keluhan utama mencakup kuota solar, irigasi rusak, dampak tambang, minimnya RMU/dryer, ketidakpastian hak tanah, dan harga gabah Bulog yang belum kompetitif.
- Pemerintah merespons lewat pemangkasan regulasi pupuk, akselerasi SPBUN, pengadaan RMU/dryer, dan PP Nomor 47 Tahun 2024 tentang penghapusan piutang macet.
- Stok pangan nasional 5,2 juta ton pada 2025-2026 menjadi indikator capaian, namun keberlanjutannya bergantung pada eksekusi nyata di lapangan.
📖 Lihat Sumber Informasi dan Referensi Berita
02. Sumbawanews: Komitmen Wapres Gibran Menindaklanjuti Aspirasi.
03. ANTARA News: Instruksi Gibran kepada Menteri Pertanian.
04. KOMPAS.com: Momen Gibran Minta Petani Sampaikan Kendala.
05. KOMPAS.com: Petani Keluhkan Harga Bulog.
06. DPD RI (Majalah Senator): Dukungan PP No. 47 Tahun 2024.
07. detikcom: Kunjungan Kampung Nelayan Merah Putih Lampung Timur.
08. Kompas.tv: Respons Cepat atas Keluhan Operasional Nelayan dan Petani.
09. Youtube KOMPASTV: Transkrip Dialog Interaktif PENAS Gorontalo. Referensi Gambar: Ilustrasi dirancang menggunakan Canva

