Reaksi Kimia Bawang Saat Dipotong dan Peran Enzim Alliinase serta LFS
Reaksi kimia bawang saat dipotong berlangsung dalam tiga tahap, yakni sel pecah, alliinase membentuk asam sulfenat, lalu LFS menghasilkan gas PTSO pemicu air mata.
- Bawang utuh menyimpan senyawa sulfur dan enzim di tempat berbeda.
- Alliinase mengubah sistein sulfoksida menjadi asam sulfenat 1-PSA.
- Enzim LFS mengubah 1-PSA menjadi gas PTSO secara cepat.
- Gas PTSO mudah menguap dan mencapai kornea mata.
ARTIKDIA.WEB.ID - Di balik tetes air mata
saat mengiris bawang, ada rangkaian reaksi biokimia yang berlangsung hanya
dalam hitungan detik.
Rangkaian ini melibatkan dua
enzim utama dan satu senyawa iritan yang sangat mudah menguap.
Gambaran umum fenomena ini
tersedia pada artikel pilar Kenapa Bawang Bikin Menangis dan Penjelasan Ilmiah
Lengkapnya. Artikel ini fokus pada tahapan kimianya.
Sel Bawang Utuh Menyimpan
Senyawa dan Enzim Secara Terpisah
Pada bawang utuh, sistein
sulfoksida (trans-1-PRENCSO) tersimpan terpisah di dalam sel dari enzim
alliinase, sehingga tidak ada gas iritan yang terbentuk.
Pemisahan ini berfungsi
seperti pengaman alami. Selama dinding sel masih utuh, kedua komponen tidak
bertemu dan bawang tidak melepaskan aroma tajam.
Karena itu bawang yang
disimpan di dapur tidak membuat orang menangis sampai pisau menyentuhnya.
Bagi pelaku agribisnis bawang
merah dan bawang putih, fakta ini menjelaskan mengapa aroma khas baru muncul
ketika umbi dipotong, dihaluskan, atau rusak saat penanganan.
Alliinase Membentuk Asam
Sulfenat Begitu Dinding Sel Pecah
Begitu pisau memecah dinding
sel, alliinase bertemu sistein sulfoksida dan langsung memecahnya menjadi
(E)-1-propene-sulfenic acid yang disingkat 1-PSA.
Kerusakan sel menjadi pemicu
seluruh rangkaian reaksi. Semakin banyak sel yang pecah, semakin banyak senyawa
yang diproses enzim.
Hal ini menjelaskan mengapa
pisau tumpul yang menghancurkan jaringan sering dikaitkan dengan mata lebih
perih.
Asam sulfenat 1-PSA bersifat
sementara, artinya senyawa ini hanya menjadi zat antara sebelum diolah enzim
berikutnya.
Enzim LFS Mengubah Asam
Sulfenat Menjadi Gas PTSO
Enzim lachrymatory factor
synthase (LFS) dengan cepat mengubah 1-PSA menjadi syn-propanethial-S-oxide
(PTSO), gas volatil yang menjadi penyebab langsung air mata.
Kajian dalam jurnal ACS
Catalysis oleh Arakawa dan kolega menelaah mekanisme atomik LFS melalui
kristalografi dan simulasi QM/MM.
Pemahaman terhadap enzim ini
memperlihatkan bahwa produksi gas pemicu air mata diatur secara spesifik oleh
tanaman.
Tanpa LFS, 1-PSA umumnya
mengikuti jalur reaksi lain, sehingga peran enzim ini menentukan jumlah gas
pemicu air mata yang terbentuk.
Sains tentang enzim juga
muncul pada organisme lain, seperti dalam ulasan fungsi dan cara kerja miselium
jamur tiram.
![]() |
| Alur reaksi dari sistein sulfoksida, alliinase, asam sulfenat 1-PSA, enzim LFS, hingga gas PTSO |
Gas PTSO Mudah Menguap dan
Mencapai Permukaan Kornea
Gas PTSO sangat mudah menguap
sehingga cepat naik dari irisan bawang dan menyentuh kornea, yaitu permukaan
bening di bagian depan mata.
Riset Cornell University yang
dilaporkan Cornell Chronicle pada 2025 menunjukkan tetesan mikro bawang
terlontar 5 sampai 40 meter per detik. Kecepatan itu membantu senyawa belerang
menjangkau wajah dalam sekejap.
Di kornea, ujung saraf sensorik
mendeteksi iritan dan memicu air mata refleks. Karena sifatnya volatil, gas ini
tidak perlu bersentuhan langsung dengan cairan bawang untuk memicu rasa perih.
Saraf Siliaris dan Kelenjar
Air Mata Merespons Gas PTSO
Saraf siliaris, cabang saraf
trigeminal, mendeteksi PTSO di kornea lalu mengirim sinyal nyeri ke otak yang
memerintahkan kelenjar air mata mengeluarkan air mata.
Air mata ini disebut irritant
tears dan fungsinya membilas serta mengencerkan zat iritan. Ulasan Hello Sehat
yang ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan, M.Kes. menjelaskan
persarafan kornea dan fungsi air mata refleks tersebut.
Kornea memiliki banyak ujung
saraf sensorik, sehingga mudah merasakan iritan.
Pemahaman Reaksi Ini Relevan
bagi Dunia Agribisnis Bawang
Pemahaman reaksi kimia bawang
relevan bagi agribisnis karena membantu pelaku usaha menjelaskan karakter
komoditas, dari aroma tajam hingga cara penanganan umbi yang tepat.
Umbi yang rusak akibat
benturan dapat memicu reaksi enzim yang sama, sehingga penanganan pascapanen
yang hati-hati membantu menjaga kualitas.
Secara umum, kajian tentang
LFS juga membuka peluang penelitian varietas dengan iritasi lebih rendah, meski
hasilnya perlu diuji lebih lanjut.
Informasi ini bersifat umum
dan perlu dipadukan dengan panduan teknis budidaya setempat.
Kesimpulan
Air mata saat mengiris bawang
berawal dari pecahnya sel, kerja alliinase, dan sentuhan akhir enzim LFS yang
menghasilkan PTSO.
Memahami urutan ini membantu
pembaca memilih cara memotong yang lebih aman bagi mata. Urutan reaksi ini juga
menjelaskan mengapa pisau tajam dan potongan lambat berguna.
Sumber Rujukan
- ACS Catalysis, Arakawa dkk., mekanisme pembentukan senyawa pemicu air mata bawang
- Cornell Chronicle (2025), Mist opportunity reveals how onions make cooks cry
- Elshinta.com, ulasan sifat irritant tears dan peran enzim LFS

