Misteri Sawah Tergenang Air: Kenapa Sawah Amblas, Bergelembung, dan Banjir? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Misteri sawah tergenang air, mulai dari tanah amblas hingga air bergelembung, dapat dijelaskan secara ilmiah lewat erosi bawah tanah, batuan karst, dan pengelolaan irigasi.
- Sinkhole sawah di Situjuah Batua, Sumatera Barat, berdiameter sekitar 20 meter dan sedalam 15 sampai 20 meter, dipicu erosi buluh (piping) dan rongga batu gamping.
- Air sawah yang bergelembung di Sumenep, Jawa Timur, umumnya terkait gas biogenik dangkal dan tekanan air tanah, bukan kekuatan gaib.
- Penggenangan terus-menerus membentuk lapisan hardpen yang kedap air dan meningkatkan risiko banjir di hilir.
- Solusi yang tersedia meliputi Ground Penetrating Radar, pompa hidram, penggenangan dangkal, dan pematang yang dihitung sesuai curah hujan.
Apa yang dimaksud
dengan misteri sawah tergenang air?
Misteri
sawah tergenang air adalah sebutan populer untuk kejadian tak biasa di lahan
padi, seperti tanah amblas dan air bergelembung, yang punya sebab fisik.
Di
banyak desa, sawah yang tiba-tiba amblas, air yang bergelembung seperti
mendidih, atau genangan yang tak kunjung surut sering dianggap misteri.
Sebagian warga mengaitkannya dengan hal gaib.
Padahal
lahan sawah adalah sistem yang berinteraksi langsung dengan air tanah, struktur
batuan bawah permukaan, dan siklus air mikro.
Sawah
irigasi menerima beban air secara terus-menerus. Ketika air meresap ke tanah
secara terkonsentrasi, struktur bawah permukaan dapat berubah, mulai dari
pelapukan batuan hingga terbentuknya rongga.
Karena
itu, pengelolaan air yang keliru dapat mengancam produktivitas pertanian,
kelestarian lingkungan, dan keselamatan warga di sekitar lahan.
Kejadian apa saja yang
memicu perhatian publik pada 2026?
Dua
kejadian menonjol pada 2026 adalah sinkhole di sawah Situjuah Batua, Sumatera
Barat, dan air bergelembung seperti mendidih di sawah Batuputih, Sumenep, Jawa
Timur.
Pada
4 Januari 2026, tanah di lahan sawah milik warga bernama Adromios di Pombatan,
Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, ambles setelah
terdengar suara gemuruh menyerupai ledakan.
Lubang
terus melebar hingga berdiameter sekitar 20 meter dengan kedalaman 15 sampai 20
meter, dan tergenang air jernih kebiruan (Badan Geologi Kementerian ESDM,
Januari 2026). Uraian lengkapnya dapat dibaca pada ulasan penyebab sinkhole sawah Situjuah Batua.
Di
Dusun Batu Putih Kenek, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep, gelembung air
yang membusa muncul di sawah milik warga bernama Mohamad. Dalam tiga hari,
gelembung yang semula kecil membesar dan menyebar ke beberapa titik sawah serta
sebuah sumur tua.
Polsek
Batuputih memasang garis polisi di sekitar sumur, sementara pengujian sampel
dikoordinasikan dengan Dinas ESDM Pemkab Sumenep.
Air
tidak mengeluarkan bau menyengat. Pembahasan lebih rinci tersedia di pannduan mitos Nyai Setan Sawah dan gelembung air Sumenep.
Jika
dibandingkan, sinkhole adalah runtuhnya tanah ke dalam rongga bawah tanah,
sedangkan air bergelembung adalah pelepasan gas atau udara yang terperangkap
lewat celah tanah. Keduanya sama-sama terkait air dan tekanan di bawah permukaan.
Mengapa tanah sawah
bisa amblas membentuk sinkhole?
Tanah
sawah amblas ketika air bawah permukaan mengikis tanah bertahap lewat erosi
buluh atau piping hingga rongga terbentuk dan runtuh saat tanah jenuh air.
Menurut
rilis Badan Geologi Kementerian ESDM pada 9 Januari 2026,
sawah di Situjuah Batua berdiri di atas endapan lapukan tuf batu apung bertekstur halus yang mengandung mineral lempung. Di bawahnya terdapat alas batuan gamping malihan yang bersifat kedap air.
Air irigasi dan air hujan tertahan di atas
batas kontak batuan, lalu mengikis material tanah secara perlahan lewat
rekahan.
Intensitas
hujan di wilayah itu berkisar 2.000 sampai 2.500 mm per tahun, dan sistem
irigasi yang kurang baik mempercepat erosi bawah permukaan (Badan Geologi
Kementerian ESDM, Januari 2026).
Pakar
lain, termasuk ahli geologi Sumatera Barat Ade Edward dan Kepala Pusat Riset
Kebencanaan Geologi BRIN Adrin Tohari, menekankan peran rongga pada batu
gamping atau karst.
Tanah
di atas rongga yang jenuh air menjadi lembek, kehilangan daya dukung, lalu
terperosok ke dalamnya.
Kenapa air sawah bisa
bergelembung seperti mendidih?
Air
sawah bergelembung tanpa bau menyengat umumnya berasal dari gas biogenik
dangkal, seperti metana rawa dari pembusukan bahan organik, atau dari tekanan air
tanah dangkal.
Endapan
aluvial di area persawahan mengandung banyak bahan organik yang membusuk.
Proses ini dapat melepaskan gas biogenik dangkal, yaitu gas hasil aktivitas
mikroba di tanah. Gas tersebut keluar melalui celah-celah mikro pada tanah.
Penjelasan
lain adalah akumulasi tekanan hidrostatik lokal pada akuifer dangkal, terutama
di wilayah pesisir.
Tekanan
air tanah yang meningkat mendorong gas bebas atau udara terperangkap keluar ke
permukaan.
Karena
air di Sumenep tidak berbau menyengat, kemungkinan ini masuk akal, tetapi hasil
uji laboratorium tetap diperlukan untuk memastikan tidak ada gas berbahaya.
Bagaimana penggenangan
sawah membentuk hardpen dan memicu banjir?
Penggenangan
dan pengolahan tanah basah terus-menerus membentuk lapisan tapak bajak atau
hardpen yang kedap air, sehingga hujan deras berubah menjadi limpasan dan
memicu banjir hilir.
Pola
tanam padi tiga kali setahun pada sawah irigasi disertai pengolahan tanah basah
(puddling) menyebabkan senyawa besi (Fe) dan mangan (Mn) mengendap sebagai
lapisan oksida di sekeliling butiran lempung.
Hasilnya
adalah hardpen di bawah lapisan olah tanah, yang menghambat air hujan meresap
lebih dalam (Slamet, Forum Geografi UMS, Juli 2013).
![]() |
| Perbandingan dua kejadian: sinkhole berair biru di sawah Sumatera Barat dan air bergelembung di sawah dekat sumur tua di Sumenep. |
Dalam
neraca air sawah, air irigasi (Is), hujan (Re), dan rembesan samping (Ig) sama
dengan simpanan genangan (S), evapotranspirasi (U), perkolasi vertikal (Gv),
perkolasi samping (Gh), dan aliran permukaan (Os).
Saat
hardpen terbentuk, perkolasi vertikal Gv menjadi nol. Bila hujan melampaui
kapasitas simpanan pematang, air langsung menjadi aliran permukaan dan meluap
ke saluran drainase.
Genangan
lebih dari dua bulan juga menciptakan kondisi anaerobik. Besi Fe3+ tereduksi
menjadi Fe2+ dan mangan Mn4+ menjadi Mn2+, sehingga oksida perekat larut dan
agregat tanah melemah.
Pada
sawah berlereng lebih dari 3 persen dengan akar padi dangkal di bawah 20 cm,
tanah yang lepas ini mudah tererosi dan berisiko longsor. Bahasan agronomisnya
tersedia di ulasan kenapa sawah digenangi air.
Apa dampak ekologis
irigasi berkelanjutan yang perlu diwaspadai?
Irigasi
berkelanjutan berdampak pada waterlogging, salinisasi, subsiden tanah, dan
hilangnya lahan basah hilir, yang terbukti di banyak negara termasuk Pakistan,
India, dan Irak.
Waterlogging
adalah naiknya muka air tanah hingga merendam akar tanaman dan menurunkan
aerasi tanah. Salinisasi adalah penumpukan garam pada lapisan olah akibat
penguapan tinggi.
Di
Pakistan, sekitar 38 persen lahan teririgasi tergenang dan 14 persen mengalami
salinisasi menurut Asian Development Bank (dirangkum Wikipedia Bahasa Indonesia,
September 2026).
Di
Irak, angka salinisasi disebut mencapai 50 persen, sedangkan di India sekitar 2
juta hektare tergenang dan 3 juta hektare bergaram.
Subsiden
tanah terjadi ketika pemompaan air tanah melebihi laju pengisian alami.
Houston, Texas, mengalami penurunan muka tanah 5 sampai 7 kaki dan banjir besar
pada 1989.
Pengambilan
air sungai berlebihan juga menurunkan aliran ke hilir, sebagaimana terlihat
pada Laut Aral yang mengering.
Kesehatan
tanah pun bergantung pada organisme di dalamnya. Gambaran jaringan hayati bawah
tanah bisa dilihat pada penjelasan fungsi dan cara kerja miselium jamur tiram.
Benarkah tanah sawah
amblas karena kutukan atau tumbal?
Tidak.
Kutukan Nyai Setan Sawah adalah folklor untuk memaknai kejadian alam, sedangkan
tanah amblas, gemuruh, dan gagal panen punya sebab geologi dan hidrologi.
Legenda
Nyai Setan Sawah, atau Nyi Ranti, mengisahkan perempuan tua miskin yang
tanahnya dirampas juragan serakah dan bersumpah tak ada panen berhasil tanpa
tumbal.
Kisah
semacam ini berfungsi sebagai cara masyarakat agraris menafsirkan peristiwa
yang dulu belum bisa dijelaskan.
Secara
ilmiah, tanah amblas dijelaskan oleh erosi buluh dan runtuhnya rongga karst.
Gagal panen dijelaskan oleh degradasi agregat tanah, hardpen, waterlogging,
atau salinisasi.
Suara
gemuruh berasal dari pelepasan tekanan air dan runtuhnya struktur tanah bawah permukaan.
Pola
serupa juga muncul pada ulasan mitos dan fakta kebun teh, ketika
cerita rakyat dan penjelasan ilmiah perlu dipisahkan dengan jelas.
Bagaimana cara mencegah
dan memitigasi bahaya di lahan sawah?
Mitigasi
sawah mencakup pemetaan rongga dengan Ground Penetrating Radar, pompa hidram
untuk pasokan air, penggenangan dangkal, dan pematang yang dirancang sesuai
curah hujan maksimum.
Ground
Penetrating Radar (GPR) adalah metode geofisika non-destruktif yang memancarkan
pulsa gelombang elektromagnetik ke dalam tanah.
Pantulan
gelombang pada perbatasan material berbeda dipakai untuk memetakan rongga,
kebocoran pipa irigasi, dan rekahan pemicu sinkhole tanpa menggali lahan (PT
Antesena Geosurvey Indonesia, 2022).
Pompa
hidram memanfaatkan energi potensial dan hentakan air (water hammer) dari
aliran sungai tanpa listrik atau BBM.
Di
Desa Gondang, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, pada ketinggian sekitar
1.000 m dpl, biaya produksinya Rp700.000 dengan harga jual rekomendasi
Rp800.000 (Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi, Desember 2025).
Untuk teknik budidaya, penggenangan dangkal 2,5 sampai 5 cm disarankan sebagai pengganti genangan 10 sampai 20 cm. Penggenangan 2,5 cm terbukti meningkatkan produktivitas padi hingga 5 persen dibanding genangan 10 cm sekaligus menghemat air (Slamet, Juli 2013).
Tinggi pematang (Tp) dirumuskan Tp > V/L + Tg, dengan V volume hujan maksimum, L luas areal, dan Tg tinggi genangan rata-rata. Untuk sawah 5 hektare dengan hujan maksimum 1.000 mm dan Tg 2,5 cm, hasilnya Tp > 1,025 m.
Informasi
resmi kebencanaan geologi dapat dirujuk ke situs Badan
Geologi Kementerian ESDM.
Apa kesalahan umum
dalam mengelola air sawah?
Kesalahan
umum meliputi menggenangi sawah terlalu tinggi dan lama, mengabaikan drainase,
membangun pematang tanpa perhitungan hujan, dan menganggap tanah amblas sebagai
hal gaib.
Genangan
tinggi dan lama mempercepat pembentukan hardpen serta kondisi anaerobik.
Drainase yang diabaikan membuat air terkonsentrasi di satu titik dan mengikis
tanah dari bawah. Pematang yang dibangun tanpa memperhitungkan curah hujan
maksimum membuat air meluap ke hilir.
Kesalahan
lain adalah menunda pelaporan. Menganggap amblesan atau gelembung sebagai
urusan gaib membuat warga tidak melapor, padahal tanah di sekitar lubang dapat
terus turun.
Apa yang perlu
dilakukan warga saat sawah tiba-tiba amblas atau bergelembung?
Jauhi
area amblesan atau gelembung, pasang penanda aman, dan laporkan ke aparat desa
serta Dinas ESDM agar pemeriksaan dan uji sampel dilakukan oleh pihak
berwenang.
Jangan
mendekati tepi lubang atau sumur yang mengeluarkan gelembung, dan jangan
menyalakan api di dekatnya sebelum hasil uji sampel keluar. Cegah anak-anak dan
ternak masuk ke area tersebut.
Informasi
ini bersifat umum. Penilaian risiko, penentuan penyebab, dan keputusan
penanganan sebaiknya diserahkan kepada geolog, dinas terkait, dan aparat
berwenang.
Kesimpulan
- Amblas, bergelembung, dan banjir di sawah punya sebab geologi dan hidrologi yang dapat diukur.
- Erosi buluh, rongga karst, gas biogenik, dan hardpen adalah penjelas utama, bukan kutukan atau tumbal.
- Penggenangan dangkal, pematang terhitung, GPR, dan pompa hidram adalah langkah mitigasi yang tersedia.
- Saat kejadian muncul, jauhi lokasi dan laporkan kepada pihak berwenang.
📖 Lihat Sumber Informasi Geologi Lahan Sawah
02. Risiko Genangan Berlebih: Membentuk lapisan hardpan kedap air penyebab banjir, serta kondisi anaerobik yang melemahkan struktur mekanis tanah dan memicu longsor. Strategi Mitigasi Terukur: Penerapan penggenangan dangkal (2,5-5 cm), perhitungan tinggi tanggul pematang berbasis curah hujan, serta pemanfaatan GPR dan pompa hidram untuk mengamankan produktivitas dan struktur geologi sawah.

