Peluang Ekonomi dan Budidaya Sukun Tahan Perubahan Iklim
Sukun tahan perubahan iklim karena mampu tumbuh di lahan marginal berpH rendah dan tetap produktif selama lebih dari 50 tahun, sehingga membuka peluang usaha agribisnis baru bagi petani lokal.
- International Treaty on Plant Genetic Resources mengategorikan sukun sebagai tanaman masa depan karena daya adaptasinya terhadap pemanasan global.
- Satu pohon sukun bisa menghasilkan 200 sampai 750 buah per tahun dan produktif lebih dari 50 tahun.
- Jawa Tengah menjadi produsen sukun terbesar dengan kontribusi 21,32 persen dari sebaran populasi tanaman nasional.
- Impor beras nasional mencapai 3,06 juta ton pada 2023, mendorong kebutuhan diversifikasi pangan berbasis komoditas lokal seperti sukun.
Alasan Sukun Dinilai Tahan terhadap
Perubahan Iklim
Sukun
dinilai tahan terhadap perubahan iklim karena kemampuannya beradaptasi pada
kondisi lahan marginal dengan pH rendah, sesuatu yang sulit dilakukan tanaman
pangan pokok seperti padi dan gandum.
International
Treaty on Plant Genetic Resources
bahkan mengategorikan sukun sebagai salah satu tanaman masa depan atau future
crop karena daya adaptasinya yang superior terhadap pemanasan global.
Dari
sisi produktivitas, satu pohon sukun mampu menghasilkan 200 hingga 750 buah per
tahun dan tetap produktif selama lebih dari 50 tahun, jauh melampaui siklus
tanam ulang yang dibutuhkan tanaman pangan musiman.
Karakteristik inilah yang membuat efisiensi budidaya sukun dinilai rendah emisi karbon dan cocok menjadi pilar dalam transisi menuju sistem pertanian berkelanjutan yang tangguh terhadap guncangan iklim.
Sebaran Wilayah Penghasil Sukun Terbesar
di Indonesia
Berdasarkan
data sebaran populasi tanaman, tiga provinsi di Pulau Jawa menjadi basis
produksi sukun terbesar di Indonesia.
Jawa
Tengah menempati posisi pertama
dengan kontribusi 21,32 persen dan diposisikan sebagai pusat produksi utama,
disusul Jawa Timur dengan kontribusi 17,80 persen yang fokus pada
integrasi pengolahan tepung, dan Jawa Barat dengan kontribusi 14,01 persen yang
lebih fokus pada pengembangan diversifikasi produk bernilai tambah.
Fokus
pengembangan industri berbasis sukun di masa depan diproyeksikan akan terpusat
pada ketiga wilayah ini, mengingat basis populasi tanaman yang sudah tersedia
menjadi modal penting untuk menjamin stabilitas pasokan bahan baku bagi
industri pengolahan.
![]() |
| Lahan budidaya sukun yang tahan terhadap perubahan iklim |
Sukun sebagai Pendorong Ketahanan Pangan
Nasional
Ketergantungan
Indonesia pada impor beras masih tergolong tinggi, dengan data Badan Pusat
Statistik mencatat impor beras nasional pada 2023 mencapai 3,06 juta ton, level
tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Kondisi
ini menjadi beban fiskal yang menyebabkan pengurasan devisa negara secara
signifikan, sehingga diversifikasi pangan berbasis komoditas lokal seperti
sukun menjadi salah satu opsi strategis untuk mengurangi ketergantungan
tersebut.
Sukun
berperan sebagai penyangga pangan, khususnya untuk mengisi kekosongan suplai
saat masa paceklik padi pada Januari-Februari dan Juli-September.
Pemanfaatan
lahan marginal yang sebelumnya tidak produktif untuk budidaya sukun juga membantu
mengurangi opportunity cost lahan yang selama ini terbengkalai.
Peluang Usaha yang Bisa Dikembangkan
dari Budidaya Sukun
Budidaya
sukun membuka sejumlah peluang usaha, mulai dari penjualan buah segar,
pengolahan menjadi tepung, hingga produk turunan seperti keripik dan camilan
berbasis sukun.
Bagi
petani atau pelaku usaha yang ingin memperluas portofolio agribisnis di lahan
yang sama, sukun bisa dikombinasikan dengan usaha pangan lain yang juga relatif
mudah dimulai dengan modal terbatas.
Sebagai
gambaran, sejumlah opsi usaha pangan modal kecil yang bisa dijalankan
berdampingan dengan budidaya sukun antara lain cara ternak lele bagi pemula dengan modal kecil yang relatif mudah dijalankan di lahan sempit dan
tidak membutuhkan investasi besar di awal, maupun memanfaatkan teknologi lewat panduan peternakan digital modal kecil untuk pemula yang kini makin diminati generasi muda untuk
mengelola usaha peternakan secara lebih efisien.
Kombinasi
budidaya sukun dengan sektor peternakan skala kecil ini bisa menjadi strategi
diversifikasi pendapatan bagi pelaku usaha di wilayah perdesaan.
Selain
itu, keterlibatan dalam rantai pasok industri pengolahan tepung sukun, mulai
dari penyediaan bahan baku hingga distribusi produk jadi, juga membuka ruang
bagi pelaku usaha untuk masuk ke sektor agribisnis yang lebih terstruktur dan
bernilai tambah tinggi.
Kesimpulan
- Sukun tahan perubahan iklim karena mampu tumbuh di lahan marginal dan tetap produktif selama puluhan tahun.
- Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat menjadi basis produksi sukun terbesar yang berpotensi menjadi pusat industri olahan.
- Budidaya sukun membuka peluang diversifikasi usaha, termasuk dikombinasikan dengan usaha peternakan skala kecil untuk menambah sumber pendapatan.
📖 Lihat Sumber Informasi dan Kajian Agribisnis Masa Depan
02. Optimalisasi Rantai Pasok dan Diversifikasi Ekonomi: Evaluasi teknis atas integrasi agribisnis hulu ke hilir. Penyatuan budidaya sukun dengan lini peternakan skala kecil (seperti budidaya perikanan air tawar) diposisikan sebagai langkah taktis guna merawat rasio profitabilitas dan melipatgandakan indeks kemandirian ekonomi masyarakat perdesaan.
03. Standardisasi Hilirisasi Komoditas Pertanian Terpadu: Pedoman operasional perihal penetrasi industri tepung lokal. Pemusatan basis produksi di wilayah Pulau Jawa dinilai sebagai parameter mutlak guna menjamin stabilitas pasokan bahan baku (raw material supply) demi menekan laju ketergantungan pada impor gandum secara signifikan.

