POME, Limbah Cair Pabrik Sawit yang Kini Jadi Bahan Bakar Pesawat
POME atau Palm Oil Mill Effluent adalah air limbah pabrik kelapa sawit yang dulu dianggap beban biaya pengolahan, namun kini diolah menjadi biogas hingga bioavtur rendah emisi lewat instalasi PLTBg.
- POME menyimpan potensi pemulihan minyak sisa sebesar 0,76-2,8% dari berat tandan buah segar.
- Secara nasional, potensi ini setara sekitar 1,5 juta ton minyak per tahun yang siap dikonversi jadi energi.
- Bioavtur berbasis POME memiliki faktor emisi 18,1 gCO2e/MJ, jauh di bawah avtur fosil sebesar 89 gCO2e/MJ.
- Produk bioavtur harus memenuhi standar ASTM D7566 dan ASTM D1655 sesuai kriteria ICAO/CORSIA untuk bisa menembus pasar internasional.
Selama bertahun-tahun, POME menjadi
salah satu pos biaya yang dihindari banyak pabrik kelapa sawit karena proses
pengolahannya yang rumit. Namun cara pandang itu mulai berubah seiring
munculnya teknologi yang mampu mengubah limbah cair ini menjadi sumber energi
terbarukan bernilai tinggi.
Apa
Itu POME dan Kenapa Selama Ini Dianggap Beban?
POME adalah air limbah yang
dihasilkan dari proses pengolahan tandan buah segar menjadi minyak sawit mentah
di pabrik, dan selama ini dianggap beban karena butuh biaya pengolahan agar
tidak mencemari lingkungan.
Padahal di balik status sebagai
limbah, POME menyimpan sisa minyak yang belum terekstraksi sempurna selama
proses produksi. Potensi pemulihan minyak dari POME diperkirakan mencapai
0,76-2,8% dari berat tandan buah segar yang diolah.
Jika diakumulasikan secara nasional,
angka tersebut setara dengan sekitar 1,5 juta ton minyak per tahun yang
sebenarnya masih bisa dikonversi menjadi energi, bukan sekadar dibuang sebagai
limbah cair biasa.
Bagaimana
Proses POME Diubah Jadi Biogas dan Bioavtur?
POME diubah menjadi biogas lewat
instalasi PLTBg yang menangkap gas metana dari limbah cair, kemudian gas tersebut
dapat diproses lebih lanjut menjadi bahan baku bioavtur atau Sustainable
Aviation Fuel (SAF).
Tahapan pemanfaatannya secara umum
meliputi:
- Instalasi biogas atau PLTBg menangkap emisi metana yang selama ini lepas begitu saja ke atmosfer dari kolam limbah POME.
- Gas metana yang tertangkap dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik maupun bahan bakar pengganti LPG di lingkungan pabrik.
- Pengembangan lebih lanjut mengarahkan pemanfaatan POME sebagai bahan baku bioavtur atau SAF untuk sektor penerbangan.
Dari sisi lingkungan, hasilnya cukup
signifikan. Bioavtur berbasis POME memiliki faktor emisi siklus hidup sebesar
18,1 gCO2e/MJ, jauh di bawah avtur fosil yang mencapai 89 gCO2e/MJ. Selisih ini
merepresentasikan reduksi emisi sebesar 79,6%, sebuah pencapaian penting untuk
memenuhi tuntutan pasar karbon global yang semakin ketat.
![]() |
| Teknisi memeriksa instalasi penangkap gas metana dari limbah POME |
Apa
Standar Internasional yang Harus Dipenuhi Bioavtur Berbasis POME?
Bioavtur berbasis POME harus memenuhi
standar teknis ASTM D7566 dan ASTM D1655 sesuai kriteria ICAO/CORSIA agar bisa
diterima di pasar penerbangan internasional.
Kepatuhan terhadap standar ini bukan
sekadar formalitas administratif, melainkan syarat mutlak akses pasar. Tanpa
sertifikasi yang sesuai, produk bioavtur sebaik apa pun tidak akan bisa
digunakan maskapai penerbangan komersial di rute internasional.
Selain aspek teknis produk, faktor
eksternal seperti ketahanan sumber daya air di wilayah produksi turut
memengaruhi keberlanjutan pasokan bahan baku.
Wilayah yang menghadapi risiko iklim,
seperti yang disinggung dalam laporan mengenai ancaman kekeringan
musim kemarau di Jambi, menunjukkan pentingnya pengelolaan air limbah pabrik yang efisien agar
tidak menambah beban krisis air di musim kering.
Kesimpulan
POME yang dulu dianggap limbah paling
merepotkan kini justru menjadi salah satu aset energi paling menjanjikan dalam
ekonomi sirkular sawit.
Lewat instalasi biogas dan
pengembangan bioavtur, limbah cair ini bisa menekan emisi metana sekaligus
membuka peluang pasar energi bersih bernilai tinggi, asalkan standar teknis
internasional dipenuhi secara konsisten.
📖 Lihat Sumber Informasi dan Kajian Valuasi Limbah Agribisnis
02. Optimalisasi Kepatuhan Standar Pasar Aviasi Global: Evaluasi teknis komprehensif atas penetrasi produk bioavtur ke gelanggang internasional. Penyelarasan proses penyulingan biologi dengan parameter sertifikasi ketat ASTM D7566 dan ICAO/CORSIA diposisikan sebagai langkah taktis guna mereduksi siklus emisi hingga 79,6 persen pabila disandingkan dengan avtur fosil konvensional.
03. Mitigasi Risiko Iklim pada Ekosistem Rantai Pasok: Pedoman operasional perihal penekanan beban konsumsi air baku industri. Tata kelola daur ulang POME yang efisien dinilai terbukti empiris sanggup menjaga kelestarian ketersediaan sumber daya air, secara khusus dalam mengantisipasi ancaman anomali hidrometeorologi layaknya kekeringan ekstrem di wilayah Sumatra.

