El Nino 2026 Ancam Pertanian Jawa Timur: Dampak Nyata dan Solusi dari Dinas Pertanian
•
El Nino 2026 diprediksi BMKG berlangsung 220 hingga 240
hari dengan puncak kekeringan pada Agustus 2026.
•
Sebanyak 76,7 persen lahan sawah Jawa Timur berpotensi
terdampak di puncak kemarau.
•
Estimasi kehilangan produksi mencapai 2,3 juta ton
gabah kering panen jika tidak ada intervensi.
•
Dinas Pertanian Jatim menyiapkan pompanisasi 3.700 unit
dan varietas padi tahan kekeringan.
•
Petani diimbau percepat masa tanam dan beralih ke
komoditas alternatif seperti sorgum di lahan kering.
Artikdia.web.id - El Nino 2026 telah berdampak nyata pada sektor pertanian Jawa Timur. Berdasarkan laporan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur,
fenomena iklim ekstrem yang oleh BMKG dijuluki 'El Nino Godzilla' ini mengancam sekitar 921.000 hektare lahan sawah dari total Luas Baku Sawah (LBS) 1,2 juta hektare di Jawa Timur pada puncak kemarau Agustus 2026.
Jawa Timur menyandang peran sebagai pilar
utama lumbung pangan nasional dengan kontribusi 17,9 persen produksi padi
Indonesia. Pada tahun 2025, provinsi ini mencatatkan rekor produksi 11,13 juta
ton gabah, naik 13 persen dibanding tahun sebelumnya. Kini, pencapaian tersebut
terancam oleh anomali iklim yang jauh lebih intens dibanding siklus El Nino
pada periode sebelumnya.
Apa yang Dimaksud dengan El
Nino?
El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut
Samudra Pasifik tengah dan timur yang melemahkan angin pasat dan menyebabkan
kekeringan lebih panjang dari normal di Indonesia.
El Nino merupakan bagian dari siklus iklim
alami yang dikenal sebagai ENSO (El Nino-Southern Oscillation). Fenomena
ini terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tengah dan timur
mengalami pemanasan di atas normal. Kondisi tersebut melemahkan angin pasat
dari timur ke barat, menekan pembentukan awan hujan di wilayah Asia Tenggara
termasuk Indonesia.
Menurut BMKG,
El Nino berbeda dengan La Nina. Jika El Nino identik dengan penurunan curah hujan dan kekeringan, La Nina justru memicu peningkatan curah hujan dan risiko banjir. Indonesia umumnya lebih sering merasakan dampak negatif El Nino berupa musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dari biasanya.
Kapan El Nino 2026 Terjadi
di Indonesia?
BMKG memproyeksikan El Nino 2026 mulai memberikan dampak
sejak Mei 2026, dengan puncak tekanan kekeringan pada Agustus 2026 dan durasi
musim kemarau antara 220 hingga 240 hari.
Berdasarkan analisis dinamika atmosfer
BMKG,
musim kemarau 2026 diproyeksikan berlangsung jauh lebih panjang dari rata-rata historis. Jendela musim hujan menutup lebih awal, meninggalkan defisit air yang signifikan di lahan-lahan pertanian.
Kondisi ini diperparah oleh intensitas
pemanasan suhu permukaan laut yang menurut BMKG melampaui kondisi El Nino pada
periode-periode sebelumnya. Itulah sebabnya para ahli menyebutnya 'El Nino
Godzilla' merujuk pada skala dampak yang lebih besar dan lebih luas dibanding
siklus El Nino biasa.
Apa Dampak Fenomena El Nino
di Indonesia dan Jawa Timur?
El Nino 2026 berisiko merusak 76,7 persen lahan sawah Jawa
Timur pada puncak kemarau, menempatkan sekitar 921.000 hektare dalam bahaya
gagal panen dengan estimasi kerugian produksi 2,3 juta ton gabah kering.
Wilayah-wilayah yang paling terdampak pada awal kemarau antara lain Lamongan dan Bojonegoro. Pada puncak kemarau, dampak meluas ke Ngawi, Banyuwangi, dan Jember.
|
Indikator Risiko |
Awal Kemarau (Mei) |
Puncak Kemarau (Agustus) |
|
Persentase Lahan Terdampak |
56,2% |
76,7% |
|
Total Luas Lahan Berisiko |
674.400 Ha |
921.000 Ha |
|
Estimasi Kehilangan Produksi |
- |
2,3 Juta Ton GKP |
|
Wilayah Prioritas |
Lamongan, Bojonegoro |
Ngawi, Banyuwangi, Jember |
Tanaman padi yang mengalami cekaman air
tidak hanya menurun potensi hasilnya, tetapi juga lebih rentan terhadap
serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Tanpa intervensi manajemen
air yang tepat, risiko gagal panen dapat meluas secara eksponensial ke seluruh
sentra produksi.
Pernyataan Resmi Dinas
Pertanian Jawa Timur
Dinas Pertanian Jawa Timur menginstruksikan 38
kabupaten dan kota untuk segera mengaktifkan protokol darurat kekeringan,
mempercepat masa tanam, dan mengoptimalkan distribusi pompa air ke lahan tadah
hujan.
Dinas Pertanian dan Ketahanan
Pangan Provinsi Jawa Timur menegaskan bahwa,
menghadapi El Nino 2026, sinergi antara manajemen infrastruktur irigasi dan penjadwalan masa tanam menjadi syarat mutlak. Seluruh jajaran dinas di 38 kabupaten dan kota diminta mengaktifkan protokol darurat kekeringan secara serentak.
Pemerintah provinsi berkoordinasi intensif
dengan Kementerian Pertanian (Kementan), BNPB, dan Balai Besar
Wilayah Sungai (BBWS) untuk memastikan distribusi sumber daya tepat sasaran
di daerah paling terdampak. Target Luas Tambah Tanam (LTT) sebesar 2,42
juta hektare ditetapkan sebagai kompensasi atas potensi penurunan produksi.
![]() |
| Dampak Kemarau Panjang pada Lahan Pertanian |
5 Langkah Adaptasi yang
Direkomendasikan Dinas Pertanian
Dinas Pertanian Jatim merekomendasikan percepatan tanam,
varietas toleran kekeringan, pompanisasi 3.700 unit, Early Warning System
BMKG, dan gerakan tanam serentak 38 daerah sebagai respons operasional
terhadap El Nino 2026.
1.
Percepatan Masa Tanam. Seluruh petani
diinstruksikan menanam padi kurang dari satu pekan setelah panen guna
memanfaatkan sisa air hujan sebelum jendela musim hujan tertutup sepenuhnya.
2.
Penggunaan Varietas Toleran Kekeringan. Petani
diimbau menanam varietas unggul berumur genjah yang toleran terhadap cekaman
air, di antaranya Inpari 1, Inpari 10, Inpari 29, Inpari 30, dan Ciherang.
Petani yang ingin mendiversifikasi ke jagung dapat merujuk informasi tentang
bibit jagung hibrida tahan penyakit sebagai referensi tambahan.
3.
Pompanisasi dan Infrastruktur Air. Program
pompanisasi dari anggaran Kementan senilai Rp 113,9 miliar menyediakan 3.700
unit pompa air untuk 60.165 hektare lahan tadah hujan prioritas. Pembangunan
sumur dalam dan embung turut dioptimalkan di daerah rawan kekeringan.
4.
Aktivasi Early Warning System (EWS). Data
prediksi iklim dari BMKG diintegrasikan sebagai instrumen mitigasi dini agar
petani dapat mengatur pola tanam secara adaptif. Pemantauan berkala melalui
kanal resmi BMKG sangat dianjurkan.
5.
Gerakan Tanam Serentak 38 Daerah. Komitmen
kolektif di seluruh kabupaten dan kota Jawa Timur untuk menjaga target LTT
sebesar 2,42 juta hektare guna mengompensasi potensi penurunan produksi akibat
kemarau panjang.
Program Bantuan Pemerintah
yang Tersedia
Pemerintah menyiapkan bantuan pompanisasi, subsidi benih
varietas adaptif, dan pembangunan embung sebagai perlindungan petani dari
dampak El Nino 2026 yang dapat diakses melalui dinas pertanian kabupaten.
Selain pompanisasi, Kementan menyiapkan
subsidi benih varietas toleran kekeringan yang dapat diakses melalui dinas
pertanian kabupaten masing-masing. Bagi petani yang memerlukan sumber
pendapatan tambahan selama masa kritis kemarau, budidaya ternak skala kecil
dapat menjadi pilihan yang tidak bergantung pada kondisi cuaca.
Petani yang ingin memverifikasi status
penerimaan bantuan sosial pertanian dapat memanfaatkan platform digital
pemerintah. Informasi lengkap tentang cara daftar aplikasi cek bansos resmi
tersedia secara daring sehingga petani tidak perlu mengunjungi kantor desa
untuk mengecek status bantuan mereka.
Diversifikasi Komoditas:
Sorgum sebagai Solusi Lahan Kering
Sorgum atau cantel direkomendasikan sebagai pengganti padi
di lahan kering terdampak El Nino karena toleran kekeringan ekstrem dan
memiliki kandungan protein dua kali lipat lebih tinggi dari beras.
Pada lahan yang tidak terjangkau irigasi teknis, diversifikasi ke tanaman yang lebih toleran kekeringan menjadi langkah adaptasi yang tak terelakkan. Sorgum atau cantel menjadi pilihan strategis karena mampu tumbuh di lahan marginal sekalipun.
|
Komponen Gizi (per 100g) |
Sorgum (Cantel) |
Beras |
|
Protein (g) |
11,0 |
7,0 |
|
Kalsium (mg) |
28,0 |
6,0 |
|
Zat Besi (mg) |
4,40 |
0,80 |
|
Fosfor (mg) |
287,0 |
147,0 |
Sorgum mengandung 11 gram protein per 100
gram hampir dua kali lipat kandungan protein beras. Zat besinya mencapai 4,4 mg
per 100 gram dibanding beras yang hanya 0,8 mg. Ini menjadikan sorgum bukan
sekadar pengganti darurat, tetapi alternatif pangan fungsional bernilai ekonomi
tinggi.
Bagi petani yang lahannya tidak bisa
dimanfaatkan secara optimal selama puncak kemarau, budidaya ternak alternatif
seperti ayam kampung dapat menjaga stabilitas pendapatan rumah tangga. Siklus
panennya yang relatif cepat menjadikannya pilihan praktis selama periode kritis
berlangsung.
El Nino 2026 bukan sekadar ancaman cuaca
biasa. Dengan potensi kerugian 2,3 juta ton gabah dan risiko pada hampir satu
juta hektare lahan sawah, dampaknya terhadap ketahanan pangan nasional sangat
nyata. Respons cepat melalui pompanisasi, percepatan tanam, dan varietas
adaptif adalah langkah yang harus segera dijalankan di lapangan.
Bagi petani Jawa Timur, memahami kondisi
iklim, mengikuti instruksi dinas pertanian, dan memanfaatkan program bantuan
pemerintah adalah kombinasi terbaik untuk melewati musim kemarau panjang ini
dengan kerugian seminimal mungkin.
📖 Lihat Sumber Informasi dan Gambar
02. Dampak Sistemik & Strategi Mitigasi: Tinjauan data dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur terkait ancaman kerugian produksi pada 921 ribu hektare lahan sawah. Langkah intervensi mencakup penyediaan 3.700 unit sistem pompanisasi, percepatan masa tanam, serta implementasi varietas padi toleran kekeringan.
03. Diversifikasi Pangan Alternatif: Komparasi nilai gizi komoditas sorgum (cantel) sebagai rekomendasi substitusi di area lahan kering, mengingat tingginya kandungan protein dan mineral secara signifikan dibandingkan dengan beras konvensional. Referensi Gambar: Ilustrasi dirancang menggunakan Canva

