Sejarah Hari Guru Nasional dalam Perspektif Islam
Artikdia - Setiap tanggal 25 November, lini masa media
sosial kita akan dipenuhi dengan ucapan terima kasih, puisi menyentuh, hingga
foto-foto nostalgia bersama para guru. Hari Guru Nasional di Indonesia bukan
sekadar perayaan seremonial belaka
Di balik bunga
dan kado yang diberikan, tersimpan sejarah perjuangan panjang bangsa ini dalam
mencerdaskan kehidupan rakyatnya.
Namun, sebagai umat Muslim, kita diajak untuk
memandang momentum ini lebih jauh dari sekadar sejarah nasional. Islam, sebagai
agama yang wahyu pertamanya adalah "Iqra" (Bacalah),
menempatkan sosok pengajar atau guru pada posisi yang teramat mulia.
Artikel ini akan mengajak Anda menelusuri lorong
waktu, memahami bagaimana sejarah Hari Guru Nasional terbentuk di tanah air,
dan menyandingkannya dengan perspektif Islam yang agung tentang sosok
"Pahlawan Tanpa Tanda Jasa" ini.
Sejarah Hari Guru Nasional di
Indonesia
Untuk memahami makna Hari Guru, kita harus menengok ke
belakang, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamirkan. Semangat
kebangsaan guru-guru pribumi sebenarnya sudah tumbuh sejak zaman Hindia
Belanda.
Pada tahun 1912, para guru pribumi membentuk
organisasi bernama PGHB (Persatuan Guru Hindia Belanda). Anggotanya beragam,
mulai dari guru bantu, guru desa, hingga kepala sekolah. Semangat mereka satu:
memperjuangkan nasib dan kesamaan hak dengan guru-guru Belanda.
Seiring menguatnya semangat kemerdekaan, nama
organisasi ini berubah menjadi PGI (Persatuan Guru Indonesia) pada tahun 1932.
Penggunaan kata "Indonesia" kala itu sangat mengejutkan dan membuat
pemerintah Belanda gerah, namun menjadi pemantik api nasionalisme yang luar
biasa.
Puncaknya terjadi tepat setelah Indonesia merdeka. Di
tengah hiruk-pikuk revolusi fisik melawan tentara Sekutu, para guru Indonesia
menggelar "Kongres Guru Indonesia" pada tanggal 24-25 November 1945
di Surakarta. Bayangkan, di tengah suara tembakan dan ketidakstabilan negara,
mereka berkumpul dengan satu tekad: menyatukan seluruh guru di bawah satu wadah
perjuangan.
Dari kongres inilah lahir PGRI (Persatuan Guru
Republik Indonesia). Tanggal penutup kongres tersebut, 25 November, kemudian
diabadikan sebagai Hari Guru Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun
1994.
Tujuan pemerintah menetapkan hari ini sangat jelas:
sebagai bentuk penghormatan, apresiasi, dan penghargaan tertinggi bagi para
pendidik yang telah berjuang menghapus kebodohan dan menanamkan karakter
bangsa. Jadi, Hari Guru Nasional memiliki akar nasionalisme yang sangat kuat,
sebuah simbol perlawanan intelektual terhadap penjajahan.
Peran Guru dalam Sejarah Peradaban
Islam
Jika sejarah nasional mencatat guru sebagai pejuang
kemerdekaan, sejarah Islam mencatat guru sebagai arsitek peradaban. Dalam
Islam, pengajaran bukan sekadar profesi, melainkan misi kenabian.
Rasulullah SAW adalah teladan guru terbaik (The
Ultimate Teacher). Beliau diutus tidak hanya untuk memimpin negara, tetapi
untuk menyempurnakan akhlak melalui pendidikan. Metode pengajaran beliau di
Masjid Nabawi atau di teras rumah beliau (Suffah) menjadi cikal bakal institusi
pendidikan dalam Islam.
Beliau mengajar dengan penuh kasih sayang,
memperhatikan kapasitas pemahaman sahabat, dan menggunakan metode tanya jawab
yang interaktif.
Setelah masa kenabian, estafet pendidikan dilanjutkan
oleh para Sahabat, Tabi’in, dan ulama-ulama besar. Dalam sejarah peradaban
Islam, kita mengenal istilah Halaqah (lingkaran studi) di masjid-masjid
Baghdad, Kairo, hingga Andalusia. Dari sinilah lahir ilmuwan-ilmuwan raksasa
yang juga merupakan guru agung.
Sebut saja Imam Al-Ghazali. Beliau bukan hanya seorang
filsuf dan sufi, tetapi juga seorang profesor (guru besar) di Madrasah
Nizamiyah, Baghdad. Ada pula Ibnu Sina (Avicenna), yang meski sibuk mengobati
pasien dan menulis kitab kedokteran Al-Qanun, tetap meluangkan waktu
untuk mengajar murid-muridnya tentang filsafat dan medis.
Dalam terminologi Islam, guru memiliki banyak sebutan
dengan makna mendalam:
- Mu’allim: Orang yang mentransfer ilmu pengetahuan.
- Murabbi: Orang yang mendidik, mengasuh, dan memelihara
pertumbuhan jiwa murid.
- Mu’addib: Orang yang mengajarkan adab dan sopan santun.
- Mursyid: Orang yang membimbing spiritualitas murid menuju
Allah.
Sejarah membuktikan bahwa kegemilangan Islam tidak
pernah lepas dari peran para guru ini. Mereka mewakafkan hidupnya bukan untuk
materi, melainkan untuk memastikan cahaya ilmu tetap menyala dari generasi ke
generasi.
Pandangan Islam tentang Kemuliaan
Guru
Mengapa Islam begitu memuliakan guru? Jawabannya
terdapat dalam banyak dalil naqli. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah
Al-Mujadilah ayat 11:
"...niscaya Allah akan meninggikan orang-orang
yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat..."
Ayat ini adalah jaminan Allah bahwa orang berilmu (dan
yang mengajarkannya) memiliki derajat yang lebih tinggi. Islam memandang guru
sebagai Waratsatul Anbiya (Pewaris para Nabi). Para Nabi tidak
mewariskan emas dan perak, mereka mewariskan ilmu. Maka, siapa pun yang
mengambil bagian dalam menyebarkan ilmu, ia sedang mengambil bagian dari
warisan kenabian.
Rasulullah SAW juga memberikan gambaran yang sangat
indah tentang keutamaan mengajarkan kebaikan:
"Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, penduduk
langit dan bumi, sampai pun semut di sarangnya dan ikan di lautan, benar-benar
bershalawat (mendoakan) untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada
manusia." (HR. Tirmidzi).
Bayangkan, seluruh makhluk mendoakan seorang guru! Ini
menunjukkan bahwa profesi guru memiliki dampak kosmik yang luar biasa. Kebaikan
yang diajarkan guru akan terus mengalir pahalanya (amal jariyah) selama ilmu
itu diamalkan oleh muridnya.
Namun, kemuliaan guru ini juga menuntut timbal balik dari murid. Keberkahan ilmu hanya bisa didapat jika ada ta’zhim (penghormatan). Hal ini berkaitan erat dengan pembahasan mengenai [Adab Murid terhadap Guru Menurut Ajaran Islam], di mana etika murid menjadi kunci terbukanya pintu pemahaman. Tanpa adab, ilmu mungkin didapat, namun keberkahannya bisa jadi terhalang.
Makna Hari Guru Nasional jika Dilihat
dari Perspektif Islam
Lantas, bagaimana kita mengaitkan sejarah Hari Guru
Nasional dengan nilai-nilai Islam tersebut? Apakah keduanya berjalan
beriringan? Tentu saja.
Memperingati Hari Guru Nasional dalam kacamata Islam
adalah bentuk manifestasi dari rasa syukur (tasyakur). Rasulullah SAW
bersabda, "Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima
kasih kepada manusia." (HR. Abu Dawud).
Momentum 25 November adalah pengingat bagi kita untuk
berterima kasih kepada perantara ilmu Allah, yaitu guru-guru kita di sekolah,
madrasah, maupun pesantren. Nilai nasionalisme yang menjunjung tinggi
pencerdasan bangsa sangat selaras dengan perintah Islam untuk menuntut ilmu (Tholabul
Ilmi).
Jika dilihat lebih dalam, makna Hari Guru Nasional
dalam Islam bisa diartikan sebagai:
- Pengingat Sanad Ilmu: Kita
diingatkan bahwa ilmu yang kita miliki tidak datang tiba-tiba, melainkan
melalui rantai pengajaran dari guru ke guru.
- Momentum Muhasabah Adab: Hari ini
menjadi "alarm" bagi murid dan orang tua untuk mengevaluasi
kembali bagaimana interaksi mereka dengan guru. Apakah sudah memuliakan
atau justru sering menuntut berlebihan?
- Integrasi Peran: Guru masa
kini, baik guru Matematika, Sejarah, maupun Agama, semuanya memegang peran
sebagai Murabbi. Islam tidak memisahkan ilmu dunia dan akhirat;
guru yang mengajarkan cara berhitung agar muridnya jujur dalam berdagang
kelak, sama mulianya dengan guru yang mengajarkan cara shalat.
Peringatan Hari Guru di sekolah-sekolah Islam atau
madrasah sebaiknya tidak hanya diisi dengan upacara bendera, tetapi juga diisi
dengan kegiatan yang menghidupkan sunnah memuliakan ilmu, seperti doa bersama
untuk guru, kajian tentang adab, atau bakti sosial kepada guru-guru yang sudah
purna tugas.
Refleksi bagi Murid dan Masyarakat
Modern
Kita hidup di era digital yang serba cepat. Tantangan
guru hari ini jauh berbeda dengan guru di era kemerdekaan atau era
kekhalifahan. Hari ini, guru harus bersaing dengan gadget, media sosial,
dan kecerdasan buatan (AI) dalam merebut perhatian murid.
Di sisi lain, pergeseran nilai di masyarakat kadang
membuat posisi guru terjepit. Kasus-kasus kriminalisasi guru atau murid yang
berani melawan guru menjadi fenomena yang menyedihkan. Oleh karena itu,
refleksi Hari Guru Nasional kali ini haruslah menyentuh aspek-aspek berikut:
1. Memuliakan di Era Digital Menghormati guru di zaman now tidak harus selalu dengan
membawakan tasnya. Mematikan notifikasi HP saat pelajaran, menyalakan kamera
saat kelas online, dan tidak menyebarkan materi guru tanpa izin adalah
bentuk adab modern yang harus dijaga.
2. Dukungan Orang Tua dan Masyarakat Masyarakat harus kembali menempatkan guru pada posisi terhormat. Orang
tua perlu menjadi mitra, bukan "pengawas" yang mencari-cari
kesalahan. Percayakan pendidikan anak pada guru, dan jika ada masalah,
selesaikan dengan tabayyun (klarifikasi) yang santun.
3. Doa yang Tak Putus Hadiah terbaik untuk guru bukanlah barang mewah, melainkan doa yang
tulus. Sempillkan nama guru-guru kita—baik yang masih hidup maupun yang sudah
wafat—dalam doa-doa harian kita.
Pada akhirnya, sejarah Hari Guru Nasional dan
perspektif Islam bermuara pada satu titik: penghargaan terhadap ilmu dan
kemanusiaan. Mari jadikan momentum ini untuk menyalakan kembali pelita
penghormatan di hati kita. Karena sejatinya, bangsa yang besar adalah bangsa
yang menghargai gurunya, dan umat yang mulia adalah umat yang memuliakan
ulamanya.


