Sejarah Aqiqah dari Masa Rasulullah hingga Sekarang
Artikdia - Aqiqah merupakan salah satu istilah yang
sangat akrab di telinga umat Muslim. Setiap kali ada kerabat atau tetangga yang
melahirkan, undangan aqiqah atau hantaran nasi kotak seringkali menyertai kabar
gembira tersebut.
Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya, sejak kapan
tradisi menyembelih kambing untuk bayi ini dimulai? Apakah bentuk perayaannya
selalu sama seperti yang kita lihat hari ini?
Ternyata, aqiqah memiliki rentang sejarah yang sangat
panjang, melintasi ribuan tahun dan berbagai peradaban. Dari padang pasir Arab
di masa kenabian hingga ke gedung-gedung bertingkat di kota metropolitan masa
kini, aqiqah terus bertahan sebagai simbol syukur orang tua.
Artikel ini akan mengajak Anda menelusuri lorong
waktu, memahami bagaimana sejarah aqiqah bermula dari tuntunan
Rasulullah SAW, berkembang seiring penyebaran Islam, hingga bertransformasi
menjadi layanan praktis di era digital tanpa kehilangan esensi syariatnya.
Aqiqah pada Masa Rasulullah SAW
Untuk memahami sejarah aqiqah, kita perlu mundur ke
masa Jazirah Arab sebelum Islam datang (masa Jahiliyah). Menariknya, masyarakat
Arab pra-Islam sebenarnya sudah memiliki tradisi penyembelihan hewan saat
menyambut kelahiran bayi, namun caranya berbeda dan bercampur dengan khurafat.
Dahulu, kaum Arab Jahiliyah menyembelih kambing ketika
anak laki-laki lahir, lalu darah hewan tersebut dioleskan ke kepala sang bayi.
Mereka meyakini hal ini sebagai bentuk perlindungan. Namun, ketika Islam datang
membawa cahaya tauhid, Rasulullah SAW meluruskan tradisi ini.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:
“Dahulu orang-orang pada masa Jahiliyah apabila mereka
beraqiqah untuk seorang bayi, mereka melumuri kapas dengan darah aqiqah, lalu
ketika mencukur rambut bayi mereka melumurkan pada kepalanya. Maka Nabi SAW
bersabda: ‘Gantilah darah itu dengan minyak wangi (khaluf)’.” (HR. Ibnu Hibban).
Di sinilah letak keindahan Islam. Agama ini tidak
serta merta menghapus budaya yang ada, melainkan memurnikannya agar sesuai
dengan nilai ketauhidan. Makna aqiqah yang secara bahasa berarti
"memotong" (rambut atau leher hewan), dipertegas menjadi ibadah
syukur kepada Allah, bukan persembahan kepada berhala atau roh leluhur.
Rasulullah SAW kemudian memberikan tuntunan yang
jelas. Beliau mensyariatkan penyembelihan dilakukan pada hari ketujuh. Beliau
sendiri mengaqiqahi cucu kesayangannya, Hasan dan Husain, masing-masing dengan
seekor kibs (domba).
Tujuan syar’i dari aqiqah pun ditegaskan dalam hadis
riwayat Samurah bin Jundub, bahwa setiap anak "tergadai" dengan
aqiqahnya. Maka, aqiqah berfungsi sebagai tebusan, wujud syukur, sekaligus
pengumuman (i’lan) kepada masyarakat bahwa telah lahir anggota keluarga
baru yang harus dijaga hak-haknya. Untuk memahami lebih dalam mengenai aturan
mainnya, Anda bisa membaca [Hukum dan Ketentuan Aqiqah dalam Islam].
Perkembangan Aqiqah dalam Sejarah
Umat Islam
Sepeninggal Rasulullah SAW, Islam menyebar luas keluar
dari Jazirah Arab. Mulai dari Persia, Afrika Utara, hingga Asia Tengah. Seiring
dengan penyebaran ini, praktik aqiqah pun mulai beradaptasi dengan kondisi
geografis dan sosial masyarakat setempat, namun tetap berpegang pada inti
syariat.
Pada masa Sahabat dan Tabi’in, aqiqah dilaksanakan
dengan sangat sederhana. Fokus utamanya adalah ketepatan waktu. Mereka berusaha
keras melaksanakan aqiqah tepat pada hari ketujuh, sebagaimana [Waktu Aqiqah
yang Dianjurkan Menurut Sunnah]. Daging sembelihan dimasak sederhana dan
dibagikan kepada tetangga serta fakir miskin. Tidak ada pesta pora berlebihan,
yang ada hanyalah kehangatan berbagi rezeki.
Seiring munculnya para imam mazhab, pembahasan
mengenai aqiqah menjadi lebih terperinci dalam kitab-kitab fiqih.
- Mazhab Syafi’i dan Hanbali sangat
menekankan aqiqah sebagai sunnah muakkadah (sangat dianjurkan).
- Mazhab Hanafi memiliki pandangan bahwa
aqiqah adalah ibadah tathawwu’ (sukarela) yang boleh dikerjakan
atau tidak.
- Mazhab Maliki menekankan pada aspek
jamuan makan.
Perbedaan pendapat ini justru memperkaya khazanah
Islam dan memberikan keluesan bagi umat di berbagai wilayah. Misalnya, di
beberapa wilayah Afrika, tradisi mencukur rambut bayi saat aqiqah dilakukan
sangat meriah dengan lantunan syair-syair pujian kepada Nabi. Sementara di
wilayah Asia Tengah, aqiqah seringkali digabungkan dengan pemberian nama yang
melibatkan tokoh agama setempat.
Meskipun berbeda dalam ekspresi budaya, peran ulama di
setiap zaman sangat krusial. Merekalah yang menjaga "pagar" agar
tradisi lokal tidak melenceng menjadi syirik. Aqiqah tetap menjadi ritual
syukur kepada Allah, bukan ritual buang sial.
Tradisi Aqiqah di Nusantara dari Masa
ke Masa
Bagaimana dengan di Indonesia? Masuknya Islam ke
Nusantara melalui para pedagang dan Wali Songo membawa warna tersendiri dalam
sejarah aqiqah.
Sebelum Islam datang, masyarakat Nusantara memiliki
berbagai ritual kelahiran yang kental dengan nuansa animisme, seperti menanam
ari-ari dengan mantra tertentu atau sesajen untuk leluhur. Ketika Islam masuk,
para pendakwah melakukan akulturasi budaya. Ritual sesajen perlahan diganti
dengan sedekah makanan yang halal (aqiqah). Doa-doa mantra diganti dengan
selawat dan ayat Al-Qur'an.
Pada masa kerajaan Islam seperti Demak, Mataram, Aceh,
dan Banten, tradisi aqiqah mulai mengakar kuat. Di tanah Jawa, aqiqah
seringkali beriringan dengan tradisi "sepasaran" atau
"selapanan". Aqiqah menjadi momen perekat sosial. Masyarakat
berkumpul, bersila, dan makan bersama dalam satu nampan (talam) atau besek.
Perbedaan gaya penyajian pun terlihat unik di setiap
daerah:
- Di Sumatera, khususnya Aceh dan Minangkabau, aqiqah
seringkali menyajikan menu gulai kambing yang kaya rempah dengan porsi
besar untuk kenduri adat.
- Di Jawa, sajian aqiqah identik dengan sate dan gule, yang
kemudian dibagikan dalam berkat (besek/kotak) kepada tetangga
kanan-kiri.
- Di Madura, sate kambing aqiqah memiliki bumbu khas dan
menjadi simbol kebanggaan tuan rumah dalam menjamu tamu.
Meskipun caranya beragam, intinya satu: melaksanakan
sunnah Nabi sekaligus memperkuat silaturahmi antarwarga. Masyarakat Nusantara
berhasil menerjemahkan ibadah aqiqah menjadi aktivitas sosial yang harmonis.
Pelaksanaan Aqiqah di Era Modern
Memasuki abad ke-21, gaya hidup masyarakat berubah
drastis. Kesibukan kerja, lahan rumah yang sempit di perkotaan, dan kurangnya
keahlian menyembelih membuat praktik aqiqah tradisional (menyembelih sendiri di
halaman rumah) menjadi sulit dilakukan.
Inilah yang melahirkan era baru: Layanan Aqiqah
Profesional.
Jika dulu orang tua harus repot mencari kambing ke
pasar hewan, kini cukup membuka smartphone. Transformasi ini membawa
banyak kemudahan:
- Kepraktisan: Orang tua tidak perlu
memikirkan proses penyembelihan, pengulitan, hingga memasak. Terima beres
dalam bentuk nasi kotak siap saji.
- Higiene & Syariat: Jasa aqiqah
modern yang kredibel biasanya memiliki sertifikat halal MUI, juru sembelih
tersertifikasi (Juleha), dan dapur yang higienis. Ini menjawab keraguan
masyarakat tentang kehalalan proses di masa lalu.
- Distribusi Digital: Salah satu
inovasi paling mulia di era ini adalah layanan penyaluran. Orang tua bisa
memesan aqiqah di Jakarta, namun dagingnya disalurkan ke panti asuhan di
pelosok desa atau daerah bencana.
Meskipun teknisnya berubah menjadi transaksional online,
esensi ibadahnya tidak berkurang. Niat tetap diucapkan, doa tetap dipanjatkan,
dan [Perbedaan Aqiqah dan Qurban] tetap terjaga batasannya. Era modern
membuktikan bahwa syariat Islam itu sholih likulli zaman wal makan
(relevan untuk setiap zaman dan tempat).
Refleksi: Makna Aqiqah di Setiap
Zaman
Menelusuri sejarah aqiqah dari gurun pasir masa Nabi
hingga layanan aplikasi online hari ini, kita menemukan satu benang
merah yang tidak pernah putus: Cinta dan Syukur.
Aqiqah adalah bukti cinta orang tua kepada anaknya
dengan memberikan "tebusan" terbaik. Ia juga bukti cinta hamba kepada
Rabb-nya dengan menjalankan sunnah Rasul.
Zaman boleh berubah. Dulu orang makan daging aqiqah
sambil duduk meleseh di atas pasir atau tikar pandan, kini mungkin dikemas
dalam bento box kekinian. Namun, pesan moralnya tetap sama. Aqiqah
mengajarkan kita untuk tidak kikir saat mendapat nikmat, mengajarkan kepedulian
sosial, dan menanamkan identitas keislaman pada anak sejak dini.
Bagi keluarga Muslim masa kini, kemudahan teknologi
seharusnya membuat kita semakin semangat menjalankan ibadah ini. Jangan sampai
kemewahan pesta melalaikan kita dari niat utama mencari ridha Allah SWT.
Apakah Ayah dan Bunda ingin menjadi bagian dari
pelestari sunnah mulia ini dengan cara yang praktis dan sesuai tuntunan zaman?
Dombastis hadir sebagai
jembatan antara nilai tradisional syariat dan kebutuhan modern keluarga
Indonesia. Kami menyediakan layanan aqiqah dengan hewan berkualitas, proses
penyembelihan syar’i, dan rasa masakan yang lezat untuk menyempurnakan
kebahagiaan Anda.

