Adab Murid terhadap Guru Menurut Ajaran Islam
Artikdia - Hari Guru sering kali dirayakan dengan
keriuhan: pemberian bunga, ucapan terima kasih di media sosial, atau sekadar
seremoni di sekolah. Namun, di balik perayaan tahunan tersebut, ada esensi yang
jauh lebih mendalam yang sering kali terlupakan, yaitu tentang bagaimana
seharusnya hati seorang murid terpaut kepada gurunya.
Dalam Islam, hubungan antara murid dan guru bukanlah
sekadar transaksi jasa—di mana guru mengajar dan murid membayar (atau sekadar
menerima nilai). Lebih dari itu, ini adalah hubungan spiritual yang sakral.
Guru adalah wasilah (perantara) sampainya ilmu
Allah kepada kita. Tanpa adab dan penghormatan yang benar, ilmu mungkin bisa
didapat, namun keberkahannya belum tentu diraih.
Momentum Hari Guru adalah saat yang tepat bagi kita
semua untuk menundukkan kepala sejenak, melakukan muhasabah (introspeksi), dan
meninjau kembali adab murid terhadap guru yang telah diajarkan oleh
syariat Islam. Apakah kita sudah memuliakan mereka sebagaimana mestinya?
Pentingnya Menghormati Guru dalam
Islam
Mengapa Islam menempatkan guru pada posisi yang begitu
tinggi? Jawabannya sederhana: karena ilmu adalah cahaya, dan guru adalah
pembawanya. Dalam Islam, para ulama dan guru sering disebut sebagai Waratsatul
Anbiya (Pewaris para Nabi). Mereka tidak mewariskan dinar atau dirham,
melainkan mewariskan ilmu pengetahuan yang menuntun manusia dari kegelapan
menuju cahaya.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surah Al-Mujadilah
ayat 11:
“...niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat...”
Ayat ini menegaskan bahwa orang berilmu memiliki
derajat yang mulia. Sebagai murid, menghormati orang yang dimuliakan Allah
adalah bentuk ketaatan. Rasulullah SAW juga bersabda dalam sebuah hadits:
“Bukanlah termasuk golongan kami, orang yang tidak
menghormati yang tua, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengetahui hak
seorang ulama (guru).” (HR. Ahmad).
Menjaga adab murid terhadap guru bukan hanya
tentang sopan santun sosial, tetapi merupakan kunci pembuka gerbang pemahaman.
Para ulama terdahulu meyakini bahwa ilmu itu "liar" dan
"sulit", dan satu-satunya cara untuk mengikatnya adalah dengan tali
adab.
Jika seorang murid meremehkan gurunya, maka ia sedang
menutup pintu keberkahan ilmu itu sendiri. Hari Guru menjadi pengingat bagi
kita bahwa kesuksesan yang kita raih hari ini, tidak lepas dari ridha dan doa
tulus mereka yang pernah mengajar kita, mulai dari mengeja huruf alif
hingga memahami rumus kehidupan yang rumit.
Adab Murid terhadap Guru dalam
Kehidupan Sehari-Hari
Bagaimana bentuk penghormatan itu dalam praktik nyata?
Adab bukanlah teori, melainkan perilaku yang tercermin dalam interaksi
sehari-hari. Berikut adalah beberapa adab utama yang perlu kita perhatikan saat
berhadapan dengan guru:
1. Menyimak dengan Penuh Perhatian Saat guru sedang menjelaskan, adab terbaik adalah diam dan menyimak.
Jangan memotong pembicaraan mereka sebelum mereka selesai atau sebelum
diizinkan. Ali bin Abi Thalib RA pernah berpesan bahwa salah satu hak guru
adalah tidak banyak bertanya yang menyudutkan dan tidak memaksakan jawaban saat
guru sedang lelah.
2. Rendah Hati dan Menjaga Nada Bicara Jangan pernah meninggikan suara di hadapan guru. Para Sahabat Nabi SAW
bahkan digambarkan duduk di hadapan Rasulullah dengan sangat tenang,
seolah-olah "ada burung di atas kepala mereka" yang akan terbang jika
mereka bergerak atau bersuara keras. Di kelas atau majelis ilmu, hindari
berdebat kusir yang tujuannya hanya untuk mempermalukan atau menguji kemampuan
guru.
3. Meminta Izin Sebelum Bertanya Rasa ingin tahu adalah hal yang baik, namun harus dibungkus dengan
etika. Angkatlah tangan, minta izin dengan sopan, dan gunakan bahasa yang halus
saat bertanya. Jika guru belum berkenan menjawab, bersabarlah.
4. Penampilan yang Layak Menghormati ilmu juga berarti menghormati majelisnya. Datanglah ke
kelas dengan pakaian yang rapi, bersih, dan menutup aurat dengan sempurna. Imam
Malik bin Anas, misalnya, tidak akan menyampaikan hadits Rasulullah kecuali
beliau sudah mandi, mengenakan pakaian terbaik, dan memakai wewangian. Semangat
memuliakan ilmu inilah yang perlu kita tiru.
5. Meringankan Beban Guru (Khidmah) Membantu membawakan buku, menghapus papan tulis, atau sekadar merapikan
meja guru tanpa diminta adalah bentuk khidmah (pelayanan) yang sangat
mulia. Dalam sejarah Islam, banyak ulama besar yang rela menjadi pelayan bagi
gurunya demi mendapatkan ridha dan doa sang guru.
Adab Murid terhadap Guru di Era
Digital
Zaman telah berubah. Kini, interaksi guru dan murid
tidak hanya terjadi di ruang kelas fisik, tetapi juga di ruang maya seperti
grup WhatsApp, Zoom, atau Google Classroom. Sayangnya, seringkali batasan adab
menjadi kabur karena tidak bertatap muka langsung.
Adab murid terhadap guru tetap berlaku di dunia digital, bahkan memerlukan perhatian ekstra:
- Etika Mengirim Pesan: Saat menghubungi guru via WhatsApp, perhatikan
waktu. Jangan mengirim pesan di larut malam atau waktu istirahat. Gunakan
salam pembuka, perkenalkan diri dengan jelas, dan gunakan bahasa baku yang
sopan. Hindari penggunaan singkatan gaul (seperti "yg",
"gmn", "ok") yang terkesan meremehkan.
- Sopan Santun di Kelas Online: Saat Zoom atau Google Meet, nyalakan kamera jika
memungkinkan sebagai bentuk kehadiran dan penghormatan. Jangan makan,
tiduran, atau melakukan aktivitas lain yang mengganggu fokus saat guru
sedang berbicara di layar. Mute mikrofon saat tidak berbicara agar tidak
menimbulkan kebisingan.
- Menjaga Privasi Guru: Jangan pernah memotret layar (screenshot) wajah
guru dengan tujuan untuk dijadikan bahan candaan (meme) atau stiker
WhatsApp. Ini adalah bentuk kedurhakaan modern yang sangat menyakitkan
hati guru.
- Mendoakan dari Jauh: Meski tidak bertemu fisik, doa murid untuk gurunya bisa dikirimkan
kapan saja, bahkan melalui status media sosial yang positif dan
menyejukkan.
Balasan dan Keberkahan bagi Murid
yang Menjaga Adab
Apa yang didapat seorang murid jika ia menjaga
adabnya? Buahnya mungkin tidak instan, tapi pasti manis.
Pertama, kemudahan dalam memahami ilmu. Hati
yang tawadhu (rendah hati) dan penuh hormat ibarat tanah yang gembur; mudah
menyerap air hujan (ilmu). Sebaliknya, hati yang sombong dan meremehkan guru
ibarat batu keras; air ilmu hanya akan lewat tanpa meresap.
Kedua, ilmu yang bermanfaat (barakah). Banyak
orang pintar, tapi ilmunya tidak membawa kebaikan bagi dirinya maupun orang
lain. Namun, murid yang beradab akan mendapatkan keberkahan di mana ilmunya
menjadi solusi masalah hidup, menjadi jalan rezeki, dan menjadi amal jariyah.
Ketiga, doa mustajab dari sang guru. Ridha
Allah terletak pada ridha orang tua, dan guru adalah orang tua ruhani kita.
Ketika hati seorang guru ridha dan senang melihat akhlak muridnya, doa yang
keluar dari lisan mereka akan menjadi "jimat" kesuksesan bagi sang
murid di masa depan.
Ada sebuah kisah masyhur tentang Imam Syafi’i. Beliau
membolak-balikkan halaman buku dengan sangat pelan di hadapan gurunya, Imam
Malik, karena khawatir suara kertas tersebut mengganggu sang guru. Hasil dari
adab yang luar biasa ini? Imam Syafi’i menjadi salah satu ulama terbesar
sepanjang masa yang ilmunya diikuti jutaan manusia hingga hari ini.
Refleksi di Hari Guru
Hari Guru bukan sekadar seremoni seremonial. Bagi
seorang Muslim, ini adalah momentum muhasabah. Mari kita tanyakan pada diri
sendiri: Sudahkah kita mendoakan guru-guru kita hari ini? Masihkah kita
menjalin silaturahmi dengan mereka? Atau jangan-jangan, kita pernah menyakiti
hati mereka dengan lisan atau sikap kita yang kurang ajar?
Di tengah arus modernisasi yang terkadang mengikis
nilai-nilai moral, menghidupkan kembali adab murid terhadap guru adalah
tugas kita bersama. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Jika masih
ada guru yang hidup, kunjungilah atau hubungilah mereka.
Mintalah maaf dan minta ridhanya. Jika mereka telah
tiada, kirimkanlah doa terbaik: Rabbighfirli wa li walidayya wa li
asatidzati (Ya Tuhanku, ampunilah aku, orang tuaku, dan guru-guruku).
Menghormati guru adalah investasi abadi. Generasi yang
beradab kepada gurunya, insya Allah akan tumbuh menjadi generasi pemimpin yang
tidak hanya cerdas otaknya, tetapi juga mulia akhlaknya.

