Kenapa Harga Telur Naik Turun, Pengaruh ke Peternak Gimana?
Artikdia - Pernah nggak, pagi beli telur Rp26 ribu per kilo, eh seminggu kemudian turun jadi Rp22 ribu? Fluktuasi kayak gini sebenarnya hal biasa di dunia peternakan unggas.
Tapi, buat
peternak kecil, perubahan harga segitu bisa banget bikin pusing apalagi kalau
biaya pakan dan listrik justru naik.
Harga telur
bisa berubah karena banyak faktor, mulai dari musim, permintaan
pasar, harga pakan, sampai distribusi antar daerah.
Misalnya, waktu musim hujan, permintaan telur menurun karena distribusi ke
pasar agak terhambat.
Tapi di
bulan-bulan ramai hajatan atau Ramadan, harga justru bisa melonjak tinggi.
![]() |
| design by : canva |
Permintaan dan Produksi: Dua Hal yang Bikin Harga Berayun
Pasokan
telur di pasar sering nggak seimbang sama permintaan.
Kalau peternak lagi panen besar-besaran sementara permintaan menurun, harga
anjlok. Tapi kalau stok menipis dan permintaan meningkat, harga melonjak.
Contohnya,
di banyak daerah, menjelang Lebaran atau Natal, harga telur bisa naik karena
kebutuhan rumah tangga dan industri kue meningkat.
Nah, setelah momen itu lewat, harga biasanya turun lagi karena stok kembali
menumpuk.
Buat
peternak, memahami pola permintaan musiman ini penting banget. Dengan
begitu, mereka bisa mengatur kapan waktu terbaik untuk panen atau jual hasil
ternaknya.
Pengaruh Biaya Produksi yang Nggak Stabil
Masalah
utama bagi peternak ayam petelur adalah biaya pakan.
Harga jagung dan dedak sebagai bahan utama pakan sering ikut naik karena
pasokan di pasar berubah-ubah.
Kalau biaya pakan naik tapi harga telur di pasar justru turun, margin
keuntungan otomatis menipis.
Itu
sebabnya, banyak peternak sekarang mulai mencoba racik pakan sendiri
dari bahan lokal seperti bekatul, singkong, atau limbah kedelai, biar bisa
menekan biaya produksi tanpa ngorbanin kualitas telur.
Distribusi dan Rantai Pasok yang Panjang
Kadang
bukan peternak yang menikmati kenaikan harga, tapi distributor dan pengepul.
Harga telur bisa beda Rp5.000/kg antara kandang dan pasar.
Masalahnya
ada di rantai distribusi yang panjang dari peternak, ke pengepul, ke pedagang
besar, baru ke konsumen.
Kalau
peternak bisa jual langsung ke pasar lokal atau konsumen akhir, misalnya
lewat media sosial atau langganan tetap, margin bisa lebih besar.
Model ini mulai populer di desa-desa, terutama setelah banyak peternak sadar
pentingnya pemasaran digital.
Strategi Biar Tetap Untung di Tengah Harga yang Naik-Turun
- Catat semua biaya dan hasil
panen.
Ini penting biar tahu titik impas dan kapan mulai untung. - Atur waktu panen dan stok.
Hindari panen massal saat harga rendah. - Diversifikasi penghasilan.
Jangan hanya jual telur mentah bisa olah jadi telur asin, abon telur, atau kue kering. - Bangun pelanggan tetap.
Jual ke warung makan, katering, atau pasar online biar harga lebih stabil.
Dampak ke Peternak Kecil: Antara Bertahan dan Berinovasi
Peternak
kecil memang paling terasa dampaknya. Saat harga turun, penghasilan bisa
langsung menipis, bahkan rugi. Tapi justru di momen seperti ini, banyak yang berinovasi
dan belajar cara bertahan.
Contohnya,
beberapa peternak di desa mulai gabung ke koperasi peternak biar bisa
beli pakan lebih murah dan jual telur dengan harga lebih tinggi karena volume
besar.
Sebagian
lagi belajar dari tren wirausaha unggas modern yang pernah dibahas di
artikel “Peluang Usaha Unggas: Dari Ayam Petelur, Pedaging hingga Olahan SiapJual”.
Harga telur
yang naik turun itu sebenarnya cermin dari dinamika ekonomi peternakan. Tantangannya
memang besar, tapi bukan berarti peternak kecil nggak bisa bertahan.
Dengan
perencanaan yang matang, efisiensi biaya, dan strategi pemasaran yang cerdas,
usaha ternak telur tetap bisa jadi sumber penghasilan stabil dan
berkelanjutan.

