Pertanian Tradisional Kasepuhan Ciptagelar, Kearifan Lokal untuk Ketahanan Pangan Berkelanjutan
Sejarah dan Filosofi
Pertanian Kasepuhan Ciptagelar
ARTIKDIA - Kasepuhan Ciptagelar adalah komunitas adat di Sukabumi, Jawa Barat, yang dikenal karena menjaga tradisi leluhur dalam mengelola lahan pertanian, khususnya padi.
Filosofi yang mereka anut adalah tanah, air, dan benih adalah titipan
leluhur yang harus dijaga.
Mereka
menolak penggunaan benih hibrida dan pupuk kimia, serta lebih mengutamakan
benih lokal yang diwariskan turun-temurun.
Filosofi ini
bukan sekadar menjaga identitas budaya, tetapi juga menjaga keseimbangan
ekosistem alam.
Sistem Pertanian
Tradisional yang Masih Bertahan
Pola Tanam Padi Lokal
Pertanian
padi menjadi inti kehidupan masyarakat Ciptagelar. Mereka menanam padi sekali
dalam setahun, menolak sistem tanam intensif modern yang sering menguras
kesuburan tanah.
Dengan cara
ini, tanah tetap subur secara alami, dan hasil panen cukup untuk kebutuhan
masyarakat sepanjang tahun.
Larangan Menjual Padi
Padi yang ditanam tidak diperjualbelikan. Panen digunakan hanya untuk konsumsi bersama, disimpan di lumbung padi tradisional yang disebut Leuit.
Sistem ini
memastikan ketahanan pangan komunitas tanpa bergantung pada pasar
modern.
Penggunaan Alat
Tradisional
Petani
Ciptagelar menggunakan alat sederhana seperti ani-ani untuk memanen padi. Meski
dianggap kuno, cara ini menjaga kualitas butir padi tetap utuh dan minim
kerusakan.
Kearifan Lokal dalam
Menjaga Lingkungan
Larangan Pestisida Kimia
Alih-alih
pestisida, masyarakat Ciptagelar menggunakan tanaman pengusir hama dan
predator alami. Contohnya, tanaman serai atau tuba digunakan untuk mengurangi
serangan hama.
Sistem Irigasi Alami
Air sawah bersumber dari hutan sekitar yang dilindungi ketat. Mereka percaya hutan adalah ibu kehidupan, sehingga penebangan liar sangat dilarang. Hal ini menjaga ketersediaan air untuk sawah sepanjang tahun.
Hubungan Spiritual dengan
Alam
Setiap musim
tanam dan panen selalu diiringi ritual adat, seperti Seren Taun, yang
menjadi simbol syukur kepada alam. Ritual ini memperkuat harmoni antara manusia
dan lingkungan.
Ketahanan Pangan
Berkelanjutan
Pangan Cukup Sepanjang
Tahun
Dengan
sistem pertanian tradisional, masyarakat Ciptagelar tidak pernah mengalami
krisis pangan. Stok padi di leuit bisa bertahan bertahun-tahun.
Pertanian Organik Alami
Karena tanpa
pupuk kimia dan pestisida, produk pertanian Ciptagelar tergolong organik alami.
Hal ini sejalan dengan tren global menuju pertanian ramah lingkungan.
Inspirasi untuk Pertanian
Modern
Model
Ciptagelar menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak harus bergantung pada
teknologi modern. Kearifan lokal bisa menjadi alternatif solusi menghadapi
perubahan iklim dan krisis pangan.
Tantangan Pertanian Tradisional
Ciptagelar
Tekanan Modernisasi
Munculnya
benih hibrida dan sistem pertanian instan menjadi tantangan besar. Banyak pihak
berusaha memperkenalkan cara modern, meski tidak sesuai dengan nilai adat.
Generasi Muda yang Mulai
Beralih
Sebagian
anak muda tertarik bekerja di kota, sehingga regenerasi petani adat menjadi
tantangan tersendiri.
Keterbatasan Pasar
Karena padi
tidak diperjualbelikan, masyarakat Ciptagelar harus mencari cara lain untuk
memenuhi kebutuhan ekonomi selain pangan.
Pertanian
tradisional Kasepuhan Ciptagelar bukan hanya sistem budidaya padi,
tetapi juga sebuah filosofi hidup. Melalui kearifan lokal, mereka berhasil
menjaga ketahanan pangan berkelanjutan sekaligus melestarikan
lingkungan.
Model ini
bisa menjadi inspirasi bagi pembangunan pertanian berkelanjutan di Indonesia
maupun dunia.

.webp)

