Zangrandi Ice Cream Surabaya Warisan Manis dari Tahun 1930-an
Artikdia - Di tengah riuhnya Surabaya yang modern, ada sebuah tempat yang seakan membekukan waktu: Zangrandi Ice Cream. Berdiri sejak tahun 1930-an, kedai es krim ini menjadi salah satu ikon kuliner tempo dulu di kota Pahlawan. Nama Zangrandi diambil dari pendirinya, Roberto Zangrandi, seorang imigran Italia yang memperkenalkan resep es krim Eropa ke Surabaya.
Keberadaan kedai ini bukan hanya soal kuliner, tetapi juga sejarah. Ia menyimpan cerita tentang kehidupan kota Surabaya di masa kolonial, saat berkumpul di sebuah kedai es krim adalah simbol gaya hidup modern.
Suasana Kolonial yang Tetap Terjaga
Bangunan Zangrandi yang berdiri di Jalan Yos Sudarso, Surabaya, masih mempertahankan bentuk aslinya. Fasad bergaya kolonial dengan jendela besar, kursi rotan, dan meja kayu klasik menciptakan suasana yang berbeda dengan kafe modern. Begitu melangkah masuk, pengunjung akan merasakan aura nostalgik yang seakan membawa mereka ke masa lalu. Atmosfer ini menjadi salah satu daya tarik utama bagi mereka yang ingin merasakan pengalaman “tempo doeloe” di tengah kota metropolitan.
Menu Legendaris yang Melekat di Ingatan
Es krim adalah bintang utama Zangrandi. Resep aslinya masih digunakan hingga kini, diwariskan dari generasi ke generasi. Tidak berlebihan jika banyak warga Surabaya maupun wisatawan yang menyebut Zangrandi sebagai “es krim legendaris” yang tak tergantikan.
Es Krim Klasik dengan Resep Asli
Zangrandi terkenal dengan es krim bertekstur lembut dan rasa yang tidak terlalu manis. Berbeda dengan es krim modern yang banyak mengandalkan bahan instan, es krim Zangrandi dibuat dengan bahan segar dan metode tradisional. Varian klasik seperti cokelat, moka, stroberi, dan vanila selalu jadi favorit. Namun ada juga rasa unik seperti tutti frutti, banana split, dan es krim rum raisin yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu.
Sajian Sederhana, Nilai Tak Ternilai
Cara penyajian es krim di Zangrandi sederhana namun penuh makna. Es krim disajikan di mangkuk kaca kecil dengan tambahan wafer, buah, atau sirup klasik. Meski tampilannya tidak semewah dessert kafe modern, justru kesederhanaan itu yang membuatnya istimewa. Banyak orang datang bukan sekadar untuk makan es krim, tetapi untuk bernostalgia—mengingat masa kecil atau sekadar menikmati suasana lawas yang jarang ditemui di tempat lain.
Zangrandi Sebagai Ruang Sosial
Sejak awal berdirinya, Zangrandi lebih dari sekadar kedai es krim. Ia adalah ruang sosial di mana orang berkumpul, berbincang, dan merayakan momen. Pada masa kolonial, tempat ini menjadi favorit kaum elite Belanda maupun keluarga Tionghoa-Peranakan. Setelah Indonesia merdeka, Zangrandi tetap mempertahankan reputasinya sebagai ruang pertemuan keluarga dan komunitas.
Tempat Kenangan Lintas Generasi
Bagi warga Surabaya, Zangrandi adalah bagian dari memori kolektif. Banyak cerita tentang anak-anak yang diajak orang tua mereka menikmati es krim di sini setiap akhir pekan. Kini, anak-anak itu sudah dewasa dan mengajak anak cucu mereka ke Zangrandi—menjadikan kedai ini sebagai jembatan kenangan lintas generasi.
Magnet Wisatawan
Zangrandi juga menjadi salah satu destinasi wisata kuliner yang wajib dikunjungi di Surabaya. Hampir setiap panduan wisata merekomendasikan kedai ini sebagai ikon kota. Wisatawan mancanegara kerap mampir untuk merasakan sensasi es krim klasik yang tak ditemukan di negara mereka. Tidak sedikit pula turis domestik yang menjadikan Zangrandi sebagai “checklist” kuliner saat berkunjung ke Surabaya.
Bertahan di Era Modernisasi
Dengan menjamurnya kafe modern dan dessert kekinian, Zangrandi menghadapi tantangan besar. Generasi muda cenderung mencari sesuatu yang baru, unik, dan instagrammable. Namun, Zangrandi tetap bertahan dengan daya tarik utamanya: keaslian. Mereka tidak mengubah resep asli, tidak mengganti interior kolonial, dan tetap mempertahankan tradisi pelayanan yang ramah.
Adaptasi yang Bijak
Meski begitu, Zangrandi tidak menutup diri dari perubahan. Beberapa inovasi dilakukan, seperti menambah variasi menu, menyediakan paket untuk acara ulang tahun atau pertemuan, serta memanfaatkan media sosial untuk promosi. Namun, semua itu dilakukan dengan hati-hati agar tidak menghilangkan identitas asli. Prinsip utama Zangrandi adalah menjaga resep dan suasana tetap sama seperti dulu.
Daya Tarik yang Tak Lekang Waktu
Keaslian inilah yang justru membuat Zangrandi tetap relevan. Di saat banyak kafe baru datang dan pergi, Zangrandi tetap bertahan. Ia tidak sekadar menjual es krim, tetapi menjual pengalaman: pengalaman bernostalgia, merasakan suasana tempo dulu, dan menikmati cita rasa yang tidak berubah.
Simbol Budaya dan Identitas Kota
Zangrandi kini bukan hanya milik Surabaya, tetapi juga bagian dari identitas kota. Sama seperti Tugu Pahlawan atau Jembatan Suramadu, Zangrandi menjadi simbol yang melekat di benak warga dan wisatawan. Ia menunjukkan bahwa Surabaya bukan hanya kota industri dan perdagangan, tetapi juga kota dengan warisan kuliner yang berharga.
Upaya Pelestarian
Pemerintah kota dan komunitas heritage turut mengakui pentingnya menjaga keberadaan Zangrandi. Upaya promosi sebagai destinasi wisata heritage terus dilakukan. Harapannya, kedai es krim ini bisa terus bertahan bukan hanya sebagai tempat kuliner, tetapi juga sebagai warisan budaya. Jika Toko Oen menjadi ikon Malang, maka Zangrandi adalah ikon Surabaya yang setara nilainya.
Manis yang Abadi
Zangrandi Ice Cream adalah bukti bahwa sesuatu yang sederhana bisa bertahan melampaui zaman. Dari es krim klasik hingga interior kolonial, dari cerita generasi tua hingga tren anak muda, semuanya berpadu dalam satu tempat yang disebut legenda. Di tengah modernisasi yang terus melaju, Zangrandi tetap menjadi ruang di mana waktu seolah berhenti—menawarkan manis yang abadi bagi siapa pun yang datang.